
| Rabu, 25 Februari 2004 | Sala |
Pondok Shabran Dibekukan Sementara
PABELAN - Aksi demonstrasi yang digelar sejumlah santri Pondok Shabran beberapa waktu lalu, berbuntut. Berbagai aktivitas dan pendidikan di pondok yang berada di lingkup koordinasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu, sementara ditiadakan hingga akhir Februari ini. Menurut Direktur Pondok Drs Syamsul Hidayat MA, langkah itu diambil guna melakukan evaluasi dan menyelesaikan permasalahan, termasuk tuntutan-tuntutan yang muncul dalam aksi sejumlah santri. Selanjutnya, awal Maret para santri dipersilakan melakukan daftar ulang ke bagian administrasi pondok. Jika tidak, mereka dianggap mengundurkan diri. Syamsul mengemukakan, tindakan itu diambil berdasarkan hasil keputusan rapat Badan Pelaksana Harian (BPH) UMS, pimpinan UMS dan pimpinan Pondok Shabran, kemarin. Keputusan itu, selanjutnya akan dijadikan surat keputusan (SK) pimpinan UMS. Hasil rapat tersebut membuat puluhan santri, yang kemarin kembali melakukan aksi unjuk rasa, spontan menangis. Beberapa santri berpelukan, menenangkan temannya untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan. Mereka merasa apa yang diperjuangkan, gagal. "Hingga akhir Feburari, pondok akan dibekukan. Selanjutnya, nanti akan ada perubahan sistem, tetapi Direktur Pondok yang menjadi simbol sistem yang ada sekarang ini, tetap diduduki personel lama. Jadi, apa gunanya. Kami merasa apa yang kami lakukan gagal. Tetapi kami tidak akan berhenti, kami akan maju terus," kata Korlap Aksi Fitrah Hamdani. Tetap Konsisten Dia menandaskan akan tetap konsisten terhadap apa yang dikemukakan selama ini, meskipun nanti dikeluarkan dari pondok itu. Aksi yang semula berlangsung di hall UMS dan diisi dengan happening art, lalu dilanjutkan dengan aksi serupa di halaman samping auditorium. Seperti diberitakan (Suara Merdeka, 17/2), puluhan santri Pondok Shabran yang tergabung dalam Forum Mahasantri Peduli Shabran, beberapa kali menggelar aksi unjuk rasa. Unjuk rasa tersebut dilakukan, karena mereka merasa sistem yang ada di pondok itu selama ini telah membelenggu para santri. Syamsul Hidayat menyatakan, dia tidak pernah berniat untuk tetap duduk sebagai direktur. Menurutnya, masalah pergantian personel pada jabatan itu merupakan wewenang pimpinan UMS. Dia mengungkapkan, sebagai tempat pendidikan kader Muhammadiyah, Pimpinan Pondok Shabran berusaha menjadikan santrinya sebagai kader yang memiliki kepribadian dengan berlandaskan agama. Prinsip-prinsip Muhammadiyah juga harus dipegang. "Kalau ada yang mengatakan membelenggu, membelenggu yang mana. Ini hanya masalah perbedaan penafsiran yang dapat diperdebatkan. Di pondok, santri bebas mengajukan pendapat. ide-ide. Tetapi tentunya tetap dalam standar kemuhammadiyahan," tegasnya.(F11-86k) |