
| Rabu, 25 Februari 2004 | Liputan Pemilu 2004 |
Peta Pemilu 2004 di Jawa Tengah (9)
Pemilih Masih Cenderung Bersikap PartisanTIPOLOGI masyarakat pemilih di Daerah Pemilihan (DP) Jateng-5, yang terdiri atas Boyolali, Klaten, Sukoharjo, dan Surakarta, agaknya tidak jauh berbeda dengan saudara-saudaranya di Jateng-4 (Wonogiri, Sragen, Karanganyar). Sebagai daerah berbasis massa PNI pada Pemilu 1955, Jateng-5 juga dikuasai PDI-P dalam pemilu lalu. Kemenangan PDI-P terjadi di seluruh (52) kecamatan yang ada di keempat kabupaten/kota tersebut, yang mana perolehan suaranya selalu di atas 50 persen (mayoritas tunggal). Hal itu tercermin pula dalam kursi di DPRD kabupaten/kota, yang (apabila tidak ada jatah lima kursi bagi TNI/Polri) menguasai lebih dari separo. Keunggulan mutlak PDI-P di Jateng-5, juga Jateng-4, tak lain karena daerah ini sejatinya merupakan basis massa kaum nasionalis, khususnya PNI di dekade 1950-an. Peta politik sempat berubah drastis pada masa Orde Baru, ketika hampir seluruh eks Karesidenan Surakarta dikuasai Golkar secara mutlak. Tetapi ketika anomali demokrasi berakhir, dengan runtuhnya rezim Soeharto, kaum nasionalis berjaya lagi di DP ini. Bahkan, dalam penguasaan wilayah kecamatan, Partai Amanat Nasional (PAN) mengungguli Partai Golkar di Klaten dan Surakarta. PKB juga berhasil memenangi sebagian kecamatan di Boyolali dan Klaten. Sedangkan PPP tak satu pun unggul di 52 kecamatan yang kini bergabung menjadi Jateng-5. Tetapi sema partai tak ada yang mampu menandingi PDI-P, yang mendominasi semua kecamatan (lihat tabel). Sudah ''Pecah'' Persoalannya, apakah keunggulan mutlak PDI-P itu bisa dipertahankan dalam Pemilu 2004? Pertanyaan ini makin ngeh, ketika kita mencermati dinamika politik yang cenderung meretakkan partai berlambang banteng mencereng dalam lingkaran putih itu. Di Solo, misalnya, partai ini sudah ''pecah'' sejak pemilihan wali kota. Saat itu, PDI-P menampilkan dua calon unggulannya. Yaitu Suhendro, yang mengantongi rekomendasi DPP, dan Slamet Suryanto yang mendapat dukungan DPC dan mayoritas anggota FPDI-P DPRD Surakarta. Kasus ini sama seperti di Semarang, yang mana jago DPP justru kalah!!! Apakah kasus pilkada itu masih mewarnai pemilu kali ini? ''Tidak, kini kami sudah bersatu,'' tegas Sekretaris DPC Supardi. Bahkan, partainya menargetkan bisa mempertahankan 23 kursi DPRD Kota, kendati alokasi kursi Dewan akan berkurang dari 45 menjadi 40. Sebenarnya, tutur dia, banyak keberhasilan yang dicapai FPDI-P melalui komisi-komisi di lembaga legislatif. Misalnya, dana bantuan untuk kelurahan untuk pembangunan yang sebelumnya Rp 2,5 juta-Rp 3 juta pada tahun 2000, kemudian mengalami peningkatan sangat besar: Rp 50 juta pada tahun anggaran berikutnya. Jumlah itu meningkat lagi menjadi Rp 90 juta-Rp 200 juta (2002) dan Rp 138 juta-Rp 250 juta pada tahun lalu. ''Ribuan orang yang bertahun-tahun gagal mengurus sertifikat tanah, kini sudah bisa tersenyum begitu PDI-P menduduki kursi mayoritas di DPRD Solo,'' jelasnya. Sinyalemen kemenangan PDI-P dalam pemilu nanti juga ''dibaca'' staf pengajar FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Dr Pawito. ''Pemilu mendatang masih dominasi pemilih partisan. Melihat kondisi ini, pemenang pemilu lalu dipredikasi bakal memenangi Pemilu 2004, termasuk di Jateng-5,'' katanya. Pencitraan sebagai partai wong cilik dianggapnya sebagai salah satu alasan penentu kemenangan PDI-P, kendati di daerah lain ikon seperti itu justru dipertanyakan ribuan wong cilik yang dulu memilih partai tersebut dalam Pemilu 1999. ''Kebanyakan pemilih menganggap partai ini sesuai dengan keseharian rakyat. Apalagi banyak pemilih yang partisan, yang berpendapat pokoknya milih partai ini, yang lain tidak. Karena itu, meski ada perubahan atau kebijakan, mereka tidak pernah mempermasalahkan,'' katanya. Fenomena PKS Bagaimana dengan partai-partai besar lainnya? Pawito berpendapat, perolehan suara Partai Golkar, PAN, PKB, dan PPP cenderung stagnan. Bahkan, khusus PPP, diperkirakan mengalami penurunan suara karena kemunculan Partai Bintang Reformasi (pimpinan KH Zaenuddin MZ). ''Partai-partai baru belum dapat menyaingi partai-partai yang sudah memiliki kursi DPRD hasil Pemilu 1999. Kecuali Partai Keadilan, yang kini berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera, memiliki peluang besar meraih massa. Partai ini diperkirakan dapat meraih kursi,'' jelas Pawito. Peluang itu disebabkan tradisi yang dijalankan PKS cukup elegan. Berbagai pernyataan pimpinan partai ini pun terlihat santun dan strategis. Yang dikhawatirkannya justru potensi kebangkitan kembali Partai Golkar. Meski secara keseluruhan hanya menempati peringkat kedua di empat daerah yang kini bergabung menjadi Jateng-5 --di bawah PDI-P serta PAN-- namun partai pilar Orde Baru ini punya momentum untuk membangun soliditasnya. ''Konsolidasi yang mereka lakukan bisa dikatakan berhasil,'' tambahnya. Apakah ''kemenangan'' Akbar, dalam perkara dana nonbujeter Bulog, bisa berpengaruh pada pemilu nanti? Menurut Pawito, ada dua hipotesa mengenai peluang Golkar. Apabila partai ini menang, ada kemungkinan terjadi konflik. Saat reformasi digulirkan kalangan mahasiswa, ada yang tidak menyukai partai ini dengan berbagai alasan. Karena itu, kalau nanti menang, diyakini bakal terjadi konflik. Sedangkan hipotesa kedua, tak ada pengaruh sama sekali atas kemenangan Golkar. (Subakti A Sidik, Sri Syamsiyah LS, Suti Harjoyo, Merawati, Joko Murdowo-48) |