
| Rabu, 25 Februari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
RS Roemani Semprot Rumah PasienSEMARANG - Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Roemani menawarkan penyemprotan rumah-rumah pasien demam berdarah (DB) yang dirawat di rumah sakit itu. Pelayanan tambahan tersebut diberikan untuk memberikan rasa aman kepada pasien dan keluarganya. Pelayanan itu diberikan kali pertama pada Selasa (24/2), di rumah seorang pasien DB di Tandang, Kecamatan Tembalang. Tindakan serupa akan dilakukan pada rumah pasien DB lainnya jika mereka bersedia dan belum ada rencana penyemprotan dari pihak lain, termasuk Dinas Kesehatan. Penjelasan itu disampaikan Direktur RS PKU Muhammadiyah Roemani, dr H Imam Soebekti MPH, di ruang kerjanya, menjelang penyemprotan. Penyemprotan akan dilakukan oleh petugas rumah sakit yang biasa melakukan hal itu di RS Roemani. Pada saat-saat tertentu, rumah sakit memang melakukan penyemprotan malathion. Hal itu dilakukan untuk mencegah agar rumah sakit tidak menjadi sumber penularan, termasuk bagi warga sekitarnya. Dia mengatakan, RS Roemani menerapkan sistem pengobatan komprehensif.
Penanganan pasien demam berdarah tidak hanya dilakukan di rumah sakit, tetapi juga setelah pasien pulang. "Namun penyemprotan itu bukan segala-galanya," kata dia. Dia juga mengatakan, pencegahan DB harus dilakukan serentak oleh pemerintah dan segala lapisan masyarakat. Perlu diadakan gerakan pemberantasan DB hingga ke rumah-rumah warga. Tindakan yang dilakukan bukan hanya penyemprotan, melainkan juga kampanye gencar agar warga mau menjaga kebersihan lingkungan masing-masing. Warga perlu diingatkan lagi agar menutup tempat-tempat penyimpanan air, menguras bak mandi secara rutin, dan mencegah munculnya jentik-jentik nyamuk, termasuk penggunaan serbuk antijentik nyamuk.Dia menganggapi positif instruksi Wali Kota kepada camat dan lurah agar melakukan upaya penanggulangan. Namun sebelum instruksi itu dilaksanakan, mestinya para camat dan lurah itu diberi sosialisasi tentang DB. Bukan tidak mungkin ada lurah atau camat yang kurang memahami penyakit tersebut. Tanpa pengetahuan dasar yang cukup, cara penanganan yang mereka lakukan bisa kurang efektif. "Saya memperkirakan, wabah demam berdarah bisa terjadi sampai April 2004," kata Mantan Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang itu. (G6-63n)
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||