logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 25 Februari 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Perayaan HUT Dewa Bumi

Berjalan di Bara, Mandi Minyak Mendidih

BATU arang yang terhampar di ujung pertemuan Jalan Gang Pinggir-Gang Besen tampak merah menyala pada Sabtu malam (21/2). Arang itu telah dibakar sejak petang hingga menghabiskan 1,5 ton. Barangkali, suhu arang itu mencapai ribuan derajad celcius.

Berada dalam jarak 5 meter dari tumpukan bara api itu masih terasa hawa panasnya. Sebagian orang yang berkerumun malam itu mencari tempat perlindungan.

Dalam jarak satu meter dengan bara api itu, badan seperti ikut terbakar. Berkali-kali orang berseragam mengingatkan kepada penonton agar tidak terlalu dekat. Namun, orang-orang berkostum dari Kelenteng Ling Hok Bio itu justru makin mendekat. Setelah mendengar aba-aba, dua orang yang mengusung tandu (kio) para dewa justru berjalan di atas bara api. Dengan kaki telanjang, keduanya berjalan tenang. Penonton sejenak terdiam.

Ketika menyaksikan dua orang itu mampu berjalan di atas bara api sepanjang 5 meter lebar 2,5 meter dan tebal 30 cm, penonton yang mengitari arena itu baru berani menunjukkan applaus-nya. Sebab dua orang bukannya meringis kesakitan.

Tidak ada luka bakar sedikit pun yang membuat keduanya harus dirawat. Bersama rekan-rekannya dari Paguyuban Tangsin Jakarta, keduanya malah kembali beraksi.

Itulah dari atraksi tangsin, sejenis aksi kekebalan tubuh atau semacam debus. Suguhan itu menjadi bagian dari peringatan HUT Dewa Bumi (Hok Tek Tjing Sien) yang menghuni Kelenteng Ling Hok Bio Gang Pinggir. Acara bertepatan dengan malam 1 Sura.

Mandi Minyak

Tak hanya berjalan di atas bara api, atraksi tangsin lain juga membuat jantung berdegub lebih cepat. Ada lidah dipotong, pipi ditusuk dengan kawat, tindik telinga, dan terakhir mandi dengan minyak goreng mendidih.

Sebenarnya, mereka bukan mandi seperti pada umumnya. Mereka hanya membasahi tubuhnya dengan kain yang dicelupkan pada minyak mendidih. Jangan anggap enteng dulu. Sebab, penonton yang terkena cipratan minyak langsung menjerit saking panasnya.

Usai acara dan setelah minyak mendingin, penonton yang sebagian masyarakat Tionghoa berebut minyak tersebut. Ada keyakinan minyak itu cukup ampuh untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Perayaan HUT Dewa Bumi itu diawali dengan pembacaan doa pada sembahyang kebesaran, dipimpin BS Thio Tiong Gie. Rombongan dari 15 klenteng datang mengikuti acara itu, masing-masing membawa kio (tandu) berisi arca Kongco Dewa Bumi dan kongco lainnya. (Agus Toto W-83)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA