
| Rabu, 25 Februari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
DB Bakal Memuncak Bulan Mei
SEMARANG - Kasus penyakit demam berdarah (DB) tahun ini diperkirakan bakal memuncak pada Mei mendatang. Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, jumlah kasus DB meningkat secara periodik lima tahun sekali. Kepala DKK dr Hadi Wibowo MMR mengakui, siklus lima tahunan DB kemungkinan akan terjadi pada 2004, terutama saat pergantian musim hujan ke musim kemarau. Pada 2003 lalu, menurut catatan DKK, penderita DB pada Januari sebanyak 71 orang dan meningkat menjadi 226 orang pada Mei. Karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk waspada jika menemui tanda-tanda awal DB. Masyarakat diminta segera melaporkan kejadian DB kepada puskesmas atau rumah sakit terdekat. Hingga Selasa (24/2), sejak Januari 2004 hingga 24 Februari 2004 tercatat 97 kasus DB dengan korban meninggal dunia 3 orang. Selama tiga bulan terakhir ini, masyarakat diminta berupaya mengantisipasi agar tidak digigit nyamuk pada pukul 08.00-11.00 dan 15.00-18.00. "Sebab, pada pukul itu biasanya nyamuk Aedes aegypti justru aktif. Karena itu, pada jam tersebut masyarakat sebaiknya menggunakan obat antinyamuk yang tersedia di pasaran," katanya. Menurut catatan DKK, pada tahun 2003 sebanyak 113 kelurahan di 16 kecamatan merupakan daerah endemik DB. Namun, tiga daerah itu saat ini masih cukup rendah angka penderitanya yakni Mijen, Tugu, dan Gunungpati. Kasubdin Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit dr Widoyono MPH menambahkan, selain daerah endemik juga terdapat daerah sporadis, yakni daerah yang terdapat kasus DB selama 3 tahun, namun tidak berturut-turut. "Yang termasuk daerah sporadis adalah 46 kelurahan dan 18 kelurahan potensial atau bebas DB," tambahnya. Galakkan PSN DKK Semarang telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi siklus lima tahunan DB. Salah satunya adalah mengajak beberapa instansi seperti Dinas Pendidikan, Departemen Agama, Dinas Pasar, dan Dinas Pariwisata untuk menggalakkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Hal itu dilakukan karena tempat-tempat umum seperti kamar mandi sekolah atau toilet pasar, sering menjadi sarang nyamuk penular DB. Pada 2003, kata dr Hadi Wibowo MMR, 50% penderita DB berusia 5-14 tahun atau anak-anak. Karena itu, DKK akan bekerja sama dengan dinas terkait untuk memberantas sarang nyamuk dengan cara menimbun barang yang tidak terpakai, menutup tempat penampungan air, dan secara rutin menguras penampungan air.
DKK telah mengajukan proposal penambahan dana ke Pemkot dan Pemprov. "DKK mengajukan proposal tambahan dana ke Pemprov untuk pengadaan Abate, penyemprotan, dan honor kader pemantau jentik," lanjutnya. Tidak Efektif Masyarakat selama ini menganggap penyemprotan (fogging) adalah satu-satunya cara untuk memberantas DB. Padahal, menurut penuturan dr Widoyono MPH, cara tersebut hanya membasmi nyamuk dewasa. Penyemprotan juga hanya akan menambah polutan karena menggunakan insektisida. Selain itu, biayanya mahal dan ada persyaratan teknis yang harus dipenuhi. Dinas Kesehatan memiliki prosedur teknis untuk menilai apakah perlu dilakukan penyemprotan atau tidak. Jika ada laporan kasus DB, puskesmas terdekat akan melakukan Penyelidikan Epidemiologis (PE) untuk melihat kasus DB lain dan jumlah jentik sejauh radius 100 m dari rumah penderita. "Penyemprotan akan dilakukan jika ada kasus DB kedua atau lebih, atau ada korban DB lain yang meninggal, atau korban pertama yang dilaporkan meninggal dengan tambahan kasus DB lain, atau ada satu kasus DB lain dengan jumlah jentik lebih dari 5%," jelasnya. Sebaliknya, jika ditemukan satu kasus DB lain atau korban DB pertama meninggal tanpa ada kasus lain dan angka jentik kurang dari 5%, tindakan yang dilakukan adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN) seluas 1 RW. (nik-63n) |