logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 25 Februari 2004 Ekonomi  
Line

Kredit Bermasalah di BPR Masih Tinggi

PEKALONGAN- Meski mengalami pertumbuhan yang berarti, kredit bermasalah di lingkungan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) masih tinggi.

Di wilayah Karesidenan Pekalongan, kredit bermasalah Rp 22 miliar. Data itu diungkapkan oleh Pimpinan Bank Indonesia (BI) Semarang Bachri Ansjori saat memberikan sambutan dalam acara "Selling Skills" bagi staf marketing BPR yang digelar Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Komwil Pekalongan di Hotel Nirwana Pekalongan, kemarin.

Melihat kinerja BPR, khususnya di wilayah Karesidenan Pekalongan, kata dia, para karyawan BPR harus lebih keras mewujudkan BPR yang sehat. ''Saudara-saudara harus berupaya lebih keras mewujudkan BPR yang sehat. Sebab dari segi kualitas, kredit yang tergolong bermasalah tercatat Rp 22 miliar,'' tandasnya. Secara umum, pertumbuhan BPR di Karesidenan Pekalongan sebagai lembaga keuangan alternatif meningkat pesat. Hingga akhir Desember 2003, tercatat ada 57 BPR dengan volume usaha Rp 214 miliar atau meningkat 39,9% dari posisi Desember setahun sebelumnya.

Adapun kredit yang disalurkan kepada masyarakat Rp 145 miliar atau meningkat 26,1%, sehingga loan to deposit ratio 103,6 %. Penghimpunan dana di BPR dari pihak ketiga tercatat Rp 140 miliar atau meningkat 40% dari tahun sebelumnya. Di depan perwakilan karyawan BPR se-Karesidenan Pekalongan, Bachri juga menyinggung soal keberadaan pos pelayanan BPR yang sering melenceng fungsinya karena ikut menentukan pengucuran kredit. Selain dihadiri oleh pimpinan BI Semarang, acara juga dihadiri oleh Ketua Perbarindo DPD I Jateng Said Hartono dan Ketua Perbarindo Komwil Pekalongan Bambang Subiyanto.(G16-82j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA