
| Rabu, 25 Februari 2004 | Ekonomi |
Pasar Ekspor Timur Tengah Belum Digarap OptimalSEMARANG- Kesuksesan penyelenggaraan Pameran Tunggal Indonesia (ISE) di Sharjah Uni Emirat Arab (UEA) pada 16-20 September 2003 lalu, yang meraih transaksi lebih 9,2 juta dolar AS dan pembeli 25.668 orang memberikan harapan besar bagi ekspor nonmigas nasional. Pasar Timur Tengah yang selama ini masih merupakan pasar ekspor nonmigas ''kelas dua" bagi pengusaha nasional ternyata memberikan harapan bahwa kawasan itu saat ini tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai tujuan ekspor. ''Dibandingkan dengan negara tujuan ekspor nonmigas utama nasional, seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Uni Eropa (UE), negara-negara di kawasan Timur Tengah selama ini tidak terlalu menarik bagi eksportir nasional. Selain itu, Pemerintah Indonesia dahulu juga masih terlalu terlena promosi ke AS, UE, dan Jepang serta belum terlalu melirik pasar Timur Tengah,'' ungkap Agus Tjahjono, Kepala Pusat Pengembangan Pasar Wilayah Afrika dan Timur Tengah di Patra Semarang, kemarin. Dia mengungkapkan hal itu di sela-sela launching pameran Indonesia Solo Ekshibition (ISE) II pada 13-17 September mendatang di Sharjah. Produk Jateng, ujar Agus, merupakan salah satu komoditas yang mempunyai pasar cukup besar di wilayah tersebut. Setidaknya, ini terlihat dari transaksi yang didapat pada pameran sebelumnya, yakni Rp 10 miliar lebih. ''Ini disebabkan produk asal Jateng memiliki ciri khas tersendiri khususnya untuk mebel dan produk agrobisnisnya,'' papar Agus. Lebih lanjut dia mengemukakan, penyelenggaraan ISE yang merupakan kegiatan Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Depperindag, antara lain untuk mengantisipasi ekspor nonmigas nasional yang dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan kecenderungan menurun, sehingga membuat banyak kalangan baik pemerintah maupun dunia usaha terpukul. (G2-82j) |