logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 25 Februari 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Belajar Mandiri lewat Pesta Siaga Pramuka

Mereka Tak Lagi Disuapi

ANAK usia sekolah dasar, 5-10 tahun, cenderung tidak mandiri dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua keperluan mereka harus dibantu orang tua. Misalnya, memakai sepatu dan mengenakan pakaian. Bahkan anak yang manja dan kolokan pun meminta disuapi saat makan.

Namun kemanjaan dan sejenisnya itu pelan-pelan dikikis lewat kegiatan kepramukaan siaga yang diselenggarakan gugus depan (gudep) sekolah. Mereka dilatih mandiri, yakni menyelesaikan semua pekerjaan dan tugas tanpa bantuan orang lain.

Forum latihan penggemblengan mental pramuka siaga itu Rabu ini mulai digelar Kwartir Daerah XI Jateng dalam sebuah pesta siaga di Desa Pagilaran, Kecamatan Blado, Batang. Kegiatan itu diikuti 14 barung putra-putri pramuka siaga dari tujuh kabupaten dan kota eks Karesidenan Pekalongan. Terbaik I dan II akan dikirim ke Semarang untuk mengikuti lomba tingkat Jateng.

Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Brebes, H Drs Tarsun MM, kemarin, menyatakan gerakan pramuka adalah salah satu wadah pembinaan anak dan generasi muda agar kelak menjadi kader dan pewaris bangsa yang berjiwa Pancasila.

Diharapkan mereka mampu menjadi pemimpin dan penyelenggara pembangunan masyarakat dan bangsa. "Untuk mencapai sasaran itu perlu kegiatan yang dapat membangkitkan, mengarahkan, dan mengendalikan keinginan anak-anak siaga itu."

Memantapkan Sikap

Kegiatan kepramukaan mendidik anak menjadi manusia berguna. Pemberani menghadapi tantangan, cerdas dalam berpikir, dan tidak cengeng. Adapun penampilan anak dalam pesta siaga akan menambah pengalaman, keterampilan yang dilandasi kepribadian luhur.

Mereka dicoba dilepas dari orang tua, kemudian bergabung dengan teman dari berbagai daerah.

Mereka akan belajar memantapkan sikap dan semangat gotong royong dalam berbagai hal. Juga meningkatkan motivasi melalui kegiatan nyata yang produktif.

Aska, Ketua Barung Putra SD Negeri 3 Brebes, tampil beda dari keseharian di rumah. Kedewasaannya tampak ketika memimpin 12 anak buah. "Kepada kakak pembina, beri hormat gerak!" seru Aska, ketika hendak dilepas kakak pembina.

Keakraban yang menghilangkan hubungan formal antara guru dan siswa terlihat dalam setiap latihan dan hubungan di sekolah. Mereka tak segan menyampaikan pendapat dan berbagai hal yang berkait dengan kebutuhan anak terhadap guru.

Itu terjadi karena anak di hadapan guru adalah adik. Itu sangat penting dalam suasana pergaulan sekarang, karena terkadang siswa takut menyampaikan sesuatu kepada guru. (wh-17g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA