logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 25 Februari 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Pergelaran Tiga Dalang Bukan Kampanye

PEMALANG - Pergelaran wayang kulit spektakuler tiga dalang di Lapangan Banjardawa, Kecamatan Taman, Pemalang Minggu malam (22/2) dianggap oleh PDI-P bukan merupakan ajang kampanye. Acara tersebut dihadiri ribuan massa, arena dihiasi bendera parpol dan terpampang spanduk nonton wayang saporete (sampai puas).

Sebelum ketiga dalang masing-masing Ki Enthus Susmono dari Tegal, Ki Anom Dwijo Kango dari Solo dan Ki Hajar Pambudi dari Banyumas menggebrak panggung, pergelaran dibuka lebih dahulu dengan sambutan Ketua DPC HU Kumpul Sutrisno, anggota DPR RI Ramson MBA, penyerahan simbolis wayang kulit dan doa.

Saking banyaknya massa yang datang kursi para tamu undangan terdesak oleh penonton yang merangsek ke depan. Sehingga para tamu yang mayoritas berpakaian merah dan hitam duduk berhimpit-himpitan. Namun begitu pergelaran berjalan lancar sampai pagi.

Ki Enthus sebagai pengawal dalam pergelaran itu menampilkan lakon "Semilak Pedut Pringgondani". Kisah yang penuh dengan intrik politik itu digelar dalam kaitan HUT PDI-P dan memperingati tahun baru Hijriyah 1425.

Selain acara pergelaran wayang, menurut Kumpul, DPC akan menggelar acara lagi berupa peresmian jembatan di Desa Wanarata, Kecamatan Bantarbolang yang akan dihadiri Taufik Kiemas suami presiden. Sedangkan sebelumnya juga digelar acara HUT di lapangan Petarukan dengan magnit pelawak Topan dan Lisus.

Menurut Ramson, acara pergelaran wayang kulit tersebut bukan merupakan kampanye terselubung dari partainya. Acara itu adalah untuk merayakan datangnya bulan syuro atau memperingati Tahun Baru Hijriyah 1425. Serta ada kaitannya pula dengan HUT PDI-P.

"Pergelaran ini sekaligus sebagai transformasi budaya kepada rakyat. Supaya budaya kita yang adiluhung tidak hilang. Selain itu juga sebagai hiburan. Tidak ada kampanye dan tidak ada pengerahan massa," katanya kepada sejumlah wartawan.

Kalau pada malam itu banyak pengunjung yang menghadiri tempat acara hal itu tidak bisa disalahkan kepada mereka. Sebab masyarakat punya hak mencari hiburan. Hal itu juga menandakan bahwa mereka masih cinta kepada PDI-P dan Megawati.

Dia juga menyinggung tentang sejumlah caleg PDI-P di beberapa daerah yang diketahui menggunakan ijazah palsu atau diragukan. Menurutnya, hal itu merupakan dinamika politik. Kemungkinan mereka sudah lama menjadi aktivis partai, tetapi dulu tidak punya peluang menjadi caleg jadi tidak mempersiapkan sekolah lagi. Padahal para caleg itu cerdas kalau sekolah pasti lulus. (sf-20)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA