logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 25 Februari 2004 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

60 Persen Sumur Mengandung Jentik Nyamuk

YOGYAKARTA- Penelitian di dua tempat di Yogyakarta menyebutkan, sumur sering menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Sekitar 40% - 60% sumur mengandung jentik nyamuk yang karena kedalamannya dan tidak dapat dicapai dengan pandangan mata, sumur sering lepas dari pengamatan.

Tim Penelitian Nyamuk UGM Yogyakarta memperoleh data bahwa sumur dengan kedalaman 6 - 11 m dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk, lebih-lebih bila dinding sumur berlumut, sempit, dan gelap. Dengan demikian, sumur yang berada di dalam rumah lebih rentan menjadi sarang nyamuk dibanding dengan sumur yang berada di luar rumah.

Pengendalian jentik di dalam sumur tidak mudah karena jentik tidak dapat dicapai dengan pandangan mata dan nyamuk bersembunyi di dalam sumur saat disemprot. Lagi pula, sumur tidak seperti bak mandi, dapat dikuras dua kali seminggu.

Untuk menurunkan populasi nyamuk di dalam sumur, tim dari UGM itu menyarankan untuk menebarkan ikan ke dalam sumur. Ikan nila merah yang ditebarkan dalam sumur mampu menurunkan populasi jentik di dalam sumur sampai dengan 90%. Ikan itu selain mudah berkembang biak juga kuat dan murah.

Selain itu, bisa juga menutup sumur dengan kawat kasa, tetapi cara ini hanya dapat dipakai untuk sumur yang bukan sumur timba.

Dr Tri Baskoro dari Pusat Kedokteran Tropis UGM menjelaskan, Tim Nyamuk UGM telah menciptakan replikasi alat jebakan jentik funnel trap yang terbuat dari corong dan stoples plastik. Alat itu diharapkan dapat dibuat oleh masyarakat karena harganya relatif murah dan bahannya mudah didapat.

''Cara pembuatannya, tutup stoples plastik diberi lubang di bagian tengah untuk menancapkan setengah ujung corong plastik. Corong yang tertancap pada stoples itu diberi pin atau pengunci agar tidak lepas. Mulut corong diberi pemberat yaitu besi beton dililit selang plastik dilingkarkan pada bagian luar dan pilihlah corong dengan permukaan selebar mungkin agar dapat menangkap jentik banyak.''

Cara pemasangannya yaitu mengisi separo stoples dengan air untuk mengurangi ruang udara dalam stoples. Perangkap jentik dimasukkan ke dalam sumur menggunakan tali plastik.

Setelah mencapai permukaan air sumur corong akan berubah posisi menghadap ke bawah dan stoples di bagian atas karena ada pemberat pada bibir corong. Sewaktu corong terbalik akan tenggelam sehingga air dalam stoples akan berhubungan dengan air dalam sumur.

Setelah terpasang, katanya, tali penurun alat diikatkan pada bagian luar sumur untuk mengontrol jentik yang masuk dalam perangkap setiap tiga hari sekali. Bila pada saat pengecekan didapatkan jentik masuk ke dalam stoples dua kali berturut-turut, hal itu menandakan populasi jentik di dalam sumur besar dan disarankan untuk segera ditebari ikan.

Alat sederhana itu, lanjutnya, sangat bermanfaat mengendalikan nyamuk di sumur di dalam rumah. (P12-80n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA