logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 25 Februari 2004 Jawa Tengah - Muria  
Line

DB Tak Kenal Batas Administratif

MESKI di Blora hanya terdapat satu kasus demam berdarah (DB), selama Januari - Februari 2004, banyak masyarakat yang dihinggapi rasa waswas. Sebab akhir-akhir ini banyak media massa memberitakan penyebaran penyakit melalui nyamuk Aedes aegypti itu.

"Bagaimana tidak takut, sejak dulu DB bisa berakibat fatal jika terlambat sedikit saja penangananannya," ungkap Bakrun, warga Perumnas, Blora.

Kasi Pencegahan dan Penularan Penyakit (P2P) DKK Blora, Lilik Hernanto, SKM Mkes,, menyadari kekhawatiran masyarakat itu. Karena keminiman pengetahuan warga tentang gejala DB, banyak penderita meninggal. Sebab penderita terlambat dibawa ke rumah sakit. "Berdasarkan pantauan kami, pasien DB meninggal karena saat dibawa ke rumah sakit kondisinya sudah kronis," ungkap dia, kemarin.

Dia menyatakan warga seharusnya mengetahui gejala umum DB. Di antaranya panas tubuh mendadak tinggi lebih dari 38 derajat celsius selama 2-7 hari. Tampak bintik-bintik merah pada kulit. Bahkan, jika kulit direnggangkan bintik itu semakin jelas, khususnya pada lengan tangan.

Kadang-kadang terjadi pendarahan pada hidung atau mimisan, mungkin terjadi muntah dan berak darah, yakni berak berwarna hitam dan berbau amis. Pendarahan di lambung menyebabkan nyeri di ulu hati dan mual. Tekanan darah penderita turun. Denyut nadi cepat tetapi lemah. Penderita tampak gelisah dan tangannya dingin berkeringat.

Namun, lanjut Lilik, perlu juga waspada, karena kini banyak kasus DB memiliki tanda-tanda lain yang tidak khas seperti itu. Hal ini mungkin adanya virus dengue yang tidak khas. Karena itu, bila anggota keluarga mengalami demam lebih dari 2 hari tidak turun-turun, segera periksakan ke pelayanan kesehatan, seperti puskesmas, rumah sakit, atau ke dokter praktik.

Blora tetap mewaspadai penyakit DB. Apalagi, berdasarkan data saat ini penyakit tersebut menjadi wabah di banyak tempat di tanah air. Bahkan, di beberapa daerah yang berbatasan dengan Blora, yakni Grobogan, Rembang, Kudus, serta wilayah Bojonegoro, Jawa Timur, kini banyak korban DB meninggal. "Dengan kata lain Blora dikelilingi wilayah yang telah terjadi 'kejadian luar biasa' penyakit DB," ujar dia.

Kalau kita tidak waspada, tidak mustahil DB akan memasuki Blora. Sebab, penyakit menular tidak bisa dibatasi oleh wilayah administratif. Mobilitas masyarakat bisa menjadikan risiko penularan DB ke wilayah Blora yang kini masih aman.

Mengapa Blora yang tergolong rentan terhadap penyakit DB bebeberapa tahun lalu, hingga kini masih kecil berkasus DB? Dia menyatakan banyak faktor memengaruhi hal itu. Di antaranya curah hujan yang memungkinkan banyak air tergenang sehingga menjadi pengembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Faktor Sulit

Dia menyatakan, perilaku hidup sehat pada masyarakat merupakan hal yang paling sulit. Contohnya, budaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menutup, mengubur, menguras (3M) di tempat perkembangbiakan nyamuk, ternyata belum diterima masyarakat. Saat ini masyarakat masih menganggap, foging atau pengasapan merupakan satu-satunya cara efektif pemberantasan DB.

Padahal foging hanya membunuh nyamuk dewasa, selain itu juga berbiaya tinggi. Pengasapan itu dinilai bisa menimbulkan kerusakan lingkungan.

Faktor lain yang memengaruhi aman tidaknya suatu daerah dari serangan DB adalah masalah pelayanan kesehatan. Selama ini , DKK dan puskesmas telah melakukan beberapa antisipasi terhadap serangan DB. Di antaranya penyuluhan PSN, pemeriksaan jentik berkala (PJB) pada 10 desa endemis. Dampaknya, bebas jentik bisa berkisar 87%-91 %, meski untuk idealnya mencapai 95%. Adapun pengasapan dilaksanakan setelah ada penyelidikan epidemilogi.(Urip Daryanto-34i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA