logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 25 Februari 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Soal Ancaman Tidak Lulus Massal

Diinstruksikan Les Maraton

KAJEN- Ancaman tidak lulus massal terhadap sejumlah siswa di Kajen, menurut Kepala Kantor Depag Kabupaten Pekalongan Drs H Masduki, mestinya ditanggapi secara serius. Semua pihak harus berusaha melakukan les maraton yang sudah diinstruksikan, sehingga harapan lulus bagi siswa makin besar.

Apalagi Bupati Pekalongan Drs H Amat Antono telah memerintahkan agar les itu jangan dilakukan setengah hati. "Kami diminta oleh Bupati untuk serius memperhatikan masalah itu," tandasnya.

Selain memberikan les dengan materi dalam UAN (Ujian Akhir Negara), para guru tetap tidak boleh melupakan pengetahuan praktik bagi siswa. Sebab pengetahuan tersebut dibutuhkan dalam kehidupan nyata.

Pengetahuan praktik secara optimal akan memberikan harapan bagi masyarakat ketika anak mereka tidak lulus dalam UAN. Ketika lulus mereka juga akan bangga, karena sang anak punya bekal tidak hanya secara teoritik tetapi juga praktik untuk hidupnya kelak. "Jadi sebetulnya lulus atau tidak lulus akan sama bingung, jika anak tak punya kemampuan praktik. Kita sedih ketika anak petani yang sekolah, tangannya mlicet saat disuruh macul di sawah," tegasnya.

Dia mengaku tak akan menutupi kelemahan di sejumlah madrasah yang tidak bisa menjamin siswanya lulus dalam UAN.

"Kami tidak takut bersikap terbuka, karena memang ribuan siswa terancam tidak lulus. Namun kami tetap harus menciptakan harapan bagi masyarakat," paparnya.

Masduki menegaskan akan tetap memberikan perintah kepada para guru untuk memberikan pengetahuan praktik secara optimal, selain pengetahuan teori. Dia juga minta kepada para guru mata pelajaran yang membuat soal UAN agar menyesuaikan dengan kondisi riil para siswa di Kota Santri itu.

Seperti diberitakan Senin lalu (23/2), ribuan sisiwa madrasah di Kabupaten Pekalongan terancam tidak lulus. Menyusul perubahan sistem penilaian dalam UAN yang mengharuskan siswa minimal dapat nilai 4,00 untuk lulus. Nilai tersebut tidak digabung dengan nilai ujian praktik. Dari aturan seperti itu, sejumlah guru mengaku kesulitan mengatrol nilai siswa agar bisa memenuhi standar kelulusan. (G16-17s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA