logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 25 Februari 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Nelayan Wonokerto Diombang-ambing Cuaca

DERITA yang dihadapi ribuan nelayan di Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan seperti tak kunjung berhenti. Setahun yang silam para nelayan menjerit karena naiknya harga solar di tengah buruknya harga ikan.

Akibatnya, tidak sedikit nelayan yang memilih berhenti melaut karena tak mampu memenuhi kebutuhan bahan bakar kapalnya. Setahun berjalan cepat, namun kondisi sulit tak juga beranjak. Bahkan pada awal tahun ini, jumlah nelayan yang menganggur bertambah, menyusul cuaca yang tidak bersahabat.

Derita tersebut ternyata belum berhenti. Ribuan rumah mereka sepekan lalu terendam banjir akibat luapan air dari sungai di kampung itu. "Kami sebenarnya masih kebingungan mencari cara bertahan hidup setelah lama menganggur, eh... kini malah kebanjiran," ujar Dasikin (33), nelayan dari Wonokerto Kulon.

Sebagian besar nelayan di daerahnya tidak punya keahlian selain berlayar mengarungi ombak. Oleh sebab itu, ketika mereka tak bisa melaut karena cuaca buruk tak kunjung reda, mereka benar-benar menganggur.

Untuk mempertahankan hidup, para nelayan memanfaatkan uang simpanan yang jumlahnya tidak seberapa. Namun ketika uang mulai habis dan cuaca juga tak kunjung membaik, mereka terpaksa menjual barang-barang yang bisa dijual untuk makan. "Mereka yang punya tabungan, ya masih lumayan. Bagaimana bagi yang tidak punya, seperti saya? Terpaksa menjual perabotan rumah tangga atau mencari utang ke sana-kemari," tutur Sukari (40), nelayan yang lain.

Ketika terjadi paceklik seperti saat ini, kata ayah berputra empat itu, dia hanya bisa pasrah menunggu perubahan cuaca. "Ya, mau apa lagi, selama ini kami kan memang hanya bisa menggantungkan nasib pada cuaca."

Kondisi sulit bagi nelayan itu diakui sudah berlangsung lama. Sebelum menganggur total seperti saat ini, dia mengaku hanya mendapatkan uang bersih sekitar Rp 50.000 - Rp 100.000 dari hasil melaut selama setengah bulan. " Untuk modal melaut, saya mengeluarkan uang rata-rata Rp 350.000. Hasilnya, saya dapat uang sekitar Rp 400.000 - Rp 550.000," tandasnya.

Langkah Pemerintah

Meski sebagian besar nelayan Wonokerto hanya bisa pasrah menunggu cuaca membaik, Ketua KUD Nelayan Minosoyo, Kaharto mengatakan, kesejahteraan nelayan masih bisa diperbaiki. Dia mengakui kondisi sulit tersebut dialami hampir seluruh nelayan Wonokerto. "Di buku daftar anggota KUD tercatat 9.986 orang yang kondisinya memprihatinkan, belum yang tidak terdaftar," ujarnya.

Saat ini nelayan Wonokerto memang hanya bisa menunggu cuaca. Namun pemerintah bisa melakukan beberapa langkah untuk memberi pendapatan kepada nelayan. Di antaranya, melakukan pembenahan kondisi dermaga dan pengerukan muara di sekitar TPI Wonokerto. "Jika kapal-kapal besar bisa mendarat di TPI, otomatis akan ada penghasilan," katanya.

Selain itu, wacana tentang pemindahan nelayan di pantai utara ke pantai selatan juga bisa dipikirkan. Namun itu membutuhkan syarat-syarat pendukung yang tidak mudah, di antaranya memberikan pembinaan dan pendidikan kepada nelayan tentang kondisi pantai selatan yang berbeda, pengadaan sarana melaut, dan proses relokasi. "Itu butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Namun bisa menjadi solusi mengingat musim di pantura yang tidak lagi bisa diperkirakan," katanya. (Muhammad Burhan-17n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA