
| Rabu, 25 Februari 2004 | Jawa Tengah - Pantura |
SGS Hijaukan Lahan KritisBATANG - Belum berfungsinya pemanfaatan lahan dan tata air di daerah aliran sungai (DAS) secara optimal karena masih masyarakat belum sadar fungsi dan manfaat kelestarian sumber daya alam (SDA). Di samping itu, anggaran pemerintah yang terbatas juga mempengaruhi kesadaran warga sebagai pelaku sekaligus pemanfaat SDA dalam usaha pembangunan kehutanan. ''Pemanfaatan tanaman kayu-kayuan di Batang sangat terbuka karena masih tersedia lahan kritis yang cukup luas. Karena itu, partisipasi perusahaan dalam membimbing kelompok tani mutlak diperlukan,'' kata Bupati Bambang Bintoro SE kepada wartawan, seusai pencanangan tahun pertama penanaman hutan sengon PT Sumber Graha Sejahtera (SGS) yang dipusatkan di Desa Surjo, Kecamatan Bawang. Bupati mengungkapkan, dengan adanya proyek sengonisasi, pada gilirannya yang akan menikmati hasilnya tetap masyarakat. Selain itu, juga akan menopang beberapa industri yang biasa menggunakan bahan baku kayu sengon. SGS yang dinilai sebagai satu-satunya perusahaan yang mempunyai kepedulian terhadap kelestarian lingkungan akan menopang perusahaan perkayuan ataupun kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Komisaris PT SGS, H Budihardjo Hardjodiwirjo, didampingi Direktur Handoyo menyatakan, perusahaanya mempunyai dua unit industri yang berada di Balaraja, Tangerang dan di Gringsing, Batang. Industri tersebut mengolah kayu sengon menjadi veneer sebagai bahan baku kayu lapis. Kebutuhan log kayu sengon untuk dua industri tersebut sekitar 6.000 m3 setiap bulan. Menurut perhitungannya, jika hasil log dari tanaman sengon lebih kurang 250 m3/ha untuk usia tanaman lima tahun, maka untuk memenuhi kebutuhan itu diperlukan 24 ha lahan tanaman sengon per bulan, sedangkan kebutuhan per tahun 288 ha. ''Apabila diperhitungkan sirkulasi masa tebang adalah lima tahun maka kebutuhan lahan tanaman sengon sekitar 1.440 ha untuk mendukung kebutuhan bahan baku secara terus-menerus,'' ujar Budihardjo. (ar-17n) |