
| Rabu, 25 Februari 2004 | Budaya |
Menuju Festival Bersama ''Tanah Impian''SEBUAH film dokumenter tentang perjuangan rakyat Porsea, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara, masuk official selection ''12th Earth Vision Film Festival Tokyo'', Jepang. Film berjudul Tanah Impian atau The Dream Land itu bercerita tentang perlawanan rakyat Porsea selama 10 tahun melawan kerusakan lingkungan hidup. Yakni sejak hadirnya PT Inti Indorayon Utama (IIU) di wilayah itu. Sinema ini juga menggambarkan kesaksian individu dan keluarga yang menjadi korban pelanggaran HAM oleh aparat yang membela IIU. Festival ini merupakan festival film lingkungan terbesar di Asia. Tanah Impian merupakan produksi bersama antara Walhi (wahana Lingkungan Hidup) dan The Rainforest Foundation Norwegia, serta rumah produksi Cangkir Kopi Jakarta. Film yang dibesut Tonny Trimarsanto ini masuk dalam kompetisi 10 besar film yang terseleksi dari 132 film dunia yang layak untuk dinilai. Sebelumnya dilakukan penyaringan tiga tahap oleh masyarakat penonton Jepang dan dewan juri, sejak Oktober tahun lalu. Dengan durasi tayang 30 menit, film ini menjadi satu-satunya film yang mewakili Indonesia, selain film-film yang datang dari Jepang, Australia, Tibet, Korea, Cina, dan Perancis. ''Tanah Impian diharapkan menjadi media yang pendidikan yang konstruktif bagi masyarakat di tempat lain yang tengah menghadapi konflik sumber daya alam,'' kata Longgena Ginting, direktur eksekutif nasional Walhi-Friends of the Earth Indonesia, pekan lalu di Jakarta. Ia mengharapkan film ini dapat memacu gairah masyarakat perfilman untuk membuat film-film dokumenter dengan tema lingkungan. Tonny Trimasanto, sutradara, merasa puas bahwa film Tanah Impian mendapat penghargaan di tingkat internasional. Dia mengaku sangat terkesan dengan konsistensi perjuangan rakyat Porsea. ''Saya sendiri sangat menikmati saat-saat membuat film ini bersama rakyat Tobasa di Porsea. Mereka telah menempatkan lingkungan sebagai masalah penting untuk survive.'' (Benny Benke-79). |