
| Selasa, 24 Februari 2004 | Surat Pembaca |
Kado untuk Bp Kapolwil PatiSelamat dan sukses saya ucapkan atas dilantiknya Bapak Kombes Pol Drs Suhartono MM sebagai Kapolwil Pati yang baru. Harapan dan doa masyarakat Pati menyertai Bapak dalam menjaga kamtibmas. Namun di balik itu masih banyak PR dan tugas baru menanti. Sebagai putra daerah yang kini berdomisili di Solo, saya masih mengikuti perkembangan kondisi dan situasi Bumi Mina Tani ini. Khabar terakhir saya terima dari sahabat (Bapak Handoko)pengurus masjid, tentang operasi VCD porno/bajakan beberapa bulan lalu oleh Bapak Kapolwil lama. Sasarannya mereka yang berjualan di tempat strategis termasuk di seputar Alun-Alun Simpang Lima Pati. Hal ini menjadi PR yang harus segera diselesaikan. Operasinya dilakukan dengan baik, namun ada tempat (penjual) yang tidak ikut dirazia. Hal ini yang menimbulkan pertanyaan masyarakat. Kesan diskriminatif atas hukum terhadap pelaku/pengedar VCD porno/bajakan sangat mencolok ketika penjual barang haram tersebut menggelar dagangan di seputar Alun-Alun dan berhadapan persis di depan Masjid Besar. Dia, tidak terkena razia dan sampai kini masih bertransaksi. Saya berharap Bapak Kapolwil yang baru beserta jajarannya dapat membuktikan diri bahwa Polri sebagai aparat penegak hukum dan mitra masyarakat bertekad memberantas penjualan VCD porno. Demikian kado dari saya. Tindakan nyata Bapak beserta jajaran saya tunggu bukan janji dan prosedur yang berbelit-belit. Haryanta SE
***
Telkomsel dan Chandra Bursa Seluler Cilacap
Saya penjual eceran voucher Simpati merasa kesulitan mendapatkan voucher tersebut di area Cilacap. Akibatnya berkali-kali para pelanggan saya harus gigit jari karena barang kosong sehingga mereka lari ke toko lain. Beberapa kali saya ke toko Chandra Bursa Seluler yang notabenenya sebagai agen/dealer tunggal Telkomsel area Cilacap, namun selalu mendapati kenyataan barang kosong. Saya merasa kecewa. Dalam benak saya terlintas, bagaimana Telkomsel bisa meraih kemajuan jika sistem distribusinya tersendat. Bagaimana mungkin pemakai kartu Simpati setia bila vouchernya saja sulit didapatkan. Saya sarankan pihak Telkomsel lebih mempersiapkan diri sehubungan bertambahnya jumlah pemakai kartu tersebut dengan memperbanyak stok voucher. Juga menjaga kelancaran distribusi voucher serta pengawasan terhadap agen. Jika dimungkinkan setiap area distribusi ditambah agen resminya, agar tidak terjadi praktik monopoli yang tidak sehat dan merugikan. Budi Setyawan *** Tanggapan Bank MandiriBerkaitan dengan Surat Pembaca di Suara Merdeka 19 Februari 2004 dari Ibu Marlina di Jl Kanfer Utara III/158 Semarang, kami atas nama manajemen Bank Mandiri telah memberikan penjelasan perihal permohonan Kredit Bebas Agunan (KBA) kepada Ibu tersebut. Atas penjelasan kami, beliau dapat memahami kesalahpahaman yang terjadi. Dengan dimuatnya surat ini, permasalahan kami dengan Ibu Marlina telah selesai.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
***
Siapa Berminat
Saya pernah bekerja di pabrik industri makanan dan karena ingin mandiri, saya berhenti dan akhirnya berhasil menciptakan produk sejenis sendiri. Produk saya telah menembus pasaran di Jakarta, melalui suplier swalayan. Namun saya selalu tidak bisa memenuhi target permintaan 40 kg/2 minggu. Saya hanya bisa memproduksi 10 kg/2 minggu karena peralatan sederhana serta modal Rp 1 juta terasa sangat sulit untuk dikembangkan. Modal awal yang diperlukan mencapai Rp 15 juta. Kesulitan ini pernah saya sampaikan ke Bapak Lurah Purwodinatan 15 Januari 2004. Namun sampai sekarang belum ditanggapi. Harapan saya bisa memperoleh pinjaman BKM/BLM (dulu JPS) yang selama ini tak sekali pun saya rasakan. Kepada pembaca khususnya calon produsen/pemula, saya tawarkan bermitra usaha melalui 2 opsi yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum Antara lain, menanamkan modal maksimal Rp 5 juta dengan kompensasi bagi hasil 5 s.d 10%/bulan. Bisa juga membeli formula komposisi yang akan dijelaskan secara transparan mulai dari pembelian bahan baku, pembuatan lengkap, di mana dan siapa yang menggemari produk ini. Usaha ini prospektif dan bisa diwariskan ke anak cucu karena manajemennya tidak jelimet. Yang diperlukan hanya kesabaran dan ketenangan jiwa. Vebry Fachrulis
***
Tolak Perda Jatim tentang Hasil Hutan
Himpunan Pedagang Kayu Jepara (HPKJ) serta Koalisi Massa Peserta Lelang Kayu Perhutani (Kompeni) khususnya Unit II Jatim menyatakan menolak pemberlakuan Perda tentang biaya retribusi hasil hutan. Retribusi ini berupa pemeriksaan, pengukuran dan pengujian hasil hutan berkaitan dengan diterbitkannya SKSHH. Alasan utama penolakan karena Pemprov Jatim melalui Dinas Kehutanan telah bertindak semena-mena dalam memberlakukan Perda tanpa ada sosialisasi lebih dulu. Apalagi melibatkan para pedagang peserta lelang kayu Perhutani sebagai pihak yang berkaitan langsung. Sedang alokasi pemungutan retribusi tersebut tidak mendasar dan berkesan mengada-ada mengingat pemeriksaan, pengukuran, dan pengujian hasil hutan khususnya kayu produksi Perum Perhutani selama ini sudah ditangani . Bila petugas Dinas Kehutanan juga melakukan pengujian serupa, menurut saya hanya tindakan pekerjaan sia-sia. Di sisi lain, Perda tersebut ironi mengingat kinerja Dinas Kehutanan yang saat ini mempunyai kewenangan dan tanggung jawab atas penerbitan SKSHH masih sering diwarnai keterlambatan dan keterbatasan blangko. Disinyalir oknum Dinas Kehutanan sering 'menjual' blangko SKSHH dengan harga tinggi untuk kayu yang melalui penjualan SIP BP dan kayu kampung. Konsumen hasil hutan khususnya kayu produksi Perum Perhutani saat transaksi lelang juga dikenai retribusi. Dengan Perda baru menjadi tanda tanya ke mana alokasi retribusi tersebut. Mohon Bapak Gubernur Jatim dan instansi terkait membatalkan atau menunda pemberlakuan Perda tersebut. Bila tidak memungkinkan kami menuntut ganti rugi kalau sampai terjadi tidak tersedianya blangko SKSHH . Bila tidak ada penjelasan dan jaminan, kami akan membatalkan semua pelaksanaan lelang kayu Perum Perhutani. Hal ini juga akan kami berlakukan bila peristiwa sama juga terjadi di Perum Perhutani Unit I Jateng dan Unit III Jabar. Heri Cahyanto, ST
***
Menggoreng Pempek
Seorang ibu menerima oleh-oleh anaknya yang bertugas dari Bandung berupa pempek Palembang yang masih mentah. Ibu tadi dengan rasa riang hati segera menggoreng, tapi sial empek-empek tadi meletus cukup keras dan minyak goreng panas mengenai wajahnya. Dengan peristiwa tersebut seyogyanya bila akan menggoreng misalnya tahu, tempe, telur dan khususnya empek-empek memakai kacamata, kalau perlu memakai topeng. Daliman MS SH |