logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 24 Februari 2004 Sala  
Line

Permintaan Darah Naik 60%

  • PMI Tak Bisa Stok Trombosit

KOTA- Selama Januari-Februari, saat terjadi peningkatan jumlah pasien demam berdarah dengue (DBD) di sejumlah rumah sakit di Solo, permintaan darah di PMI Cabang Surakarta naik hingga 60%.

Pasien yang menderita penyakit tersebut membutuhkan trombosit atau sel darah merah, karena jumlah sel itu di dalam tubuhnya terus berkurang.

Bila pada bulan-bulan sebelumnya anggota masyarakat yang mendatangi kantor PMI untuk memperoleh darah hanya 8-10 kantung per hari, kini 15 kantung lebih darah yang diambil per hari.

"Ada kenaikan yang fluktuatif untuk permintaan komponen darah, terutama trombosit untuk Januari-Februari. Dari analisis kami, hal itu terkait erat dengan jumlah pasien DBD yang melonjak. Penderita penyakit itu membutuhkan trombosit, karena kadarnya dalam tubuh si penderita terus berkurang," ungkap YMT Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Cabang Surakarta Hj Maria Ardhie, kemarin.

Meski mengalami lonjakan permintaan, UTD tidak bisa menyetok persediaan darah dengan komponen yang hanya diambil trombositnya tersebut.

Pasalnya, trombosit hanya bisa dipisahkan dari darah pada saat darah masih segar. Sel tersebut juga hanya bisa bertahan 3-4 jam di udara luar. Lebih dari waktu itu, tak lagi bisa ditransfusikan ke dalam tubuh.

Mereka yang membutuhkannya, ujar Maria, terpaksa harus membawa donor sendiri ke UTD. Setelah itu, pendonor akan diambil darahnya untuk diproses dan baru bisa diambil.

"Untuk darah bagi penderita DBD, kami terpaksa tidak bisa menyediakan stok sehingga pasien harus menyediakan pendonor dan UTD hanya mengolah darahnya saja," ujar dia.

Pasokan Cukup

Kondisi berbeda terjadi terhadap permintaan untuk whole blood (darah yang diambil dari tubuh tanpa dipisahkan dari komponen-komponennya-Red).

Darah tersebut bisa dipasok dan persediannya mencukupi. Jika ada UTD di Solo kekurangan, bisa diambilkan dari UTD cabang lain dengan adanya sistem link atau jaringan. Sistem tersebut memungkinkan UTD di satu daerah yang stoknya kosong bisa memperolehnya dari daerah lain.

"Kami akan mengusahakan darah dengan memperolehnya dari UTD lain, jika pasien mau menunggu. Namun jika tidak, pasien bia membawa pendonor sendiri," kata dia.

Mengenai besarnya biaya yang harus dikeluarkan pasien untuk memperoleh darah, UTD mengenakan Rp 100.000 per kantung untuk darah dengan komponen yang hanya diambil trombositnya, dan Rp 90.000 per kantung untuk whole blood. Tarif tersebut, jelas Maria, merupakan biaya pengolahan darah.

Untuk memperoleh darah, masyarakat membutuhkan waktu lebih kurang 2,5 jam untuk serangkaian tes pemeriksaan yang harus dijalani. Tes tersebut bertujuan mengetahui ada atau tidaknya penyakit si pendonor.(G18-86j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA