
| Selasa, 24 Februari 2004 | Sala |
Bulan Sura, Saatnya Tradisi Ritual Bersih DesaMASYARAKAT pedesaan umumnya mengadakan tradisi ritual bersih desa pada bulan Besar. Tetapi tidak sedikit pula yang menggelar ritual itu pada malam pergantian tahun Jawa, yang dibarengkan dengan tirakatan malam 1 Sura atau hari lain selama bulan Sura. Bagi masyarakat di lingkungan Kerdukepik, Kelurahan Giripurwo, Kecamatan Wonogiri Kota, misalnya, ritual itu diadakan pada malam tirakatan menyambut 1 Sura 1937 Tahun Wawu (bukan tahun Be seperti pernah diberitakan). Menurut anggota DPRD Sardi Djokopraptopo SE, yang berdomisili di Kecamatan Jatisrono, ritual bersih desa disertai dengan pentas wayang kulit, Minggu malam (22/2) yang digelar masyarakat Desa Gondangsari, Jatisrono. Disusul Senin malam (23/2), ritual sama dengan pentas wayang kulit semalam suntuk digelar warga Desa Ngrompak, Kecamatan Jatisrono. Kemudian Kamis malam (26/2) mendatang, kegiatan yang sama diagendakan oleh masyarakat Desa Gunungsari, Jatisrono. Menurut Empu dalang Ki Warsino Gunasukasno dari Baturetno, bersih desa yang sering disebut pula Rasulan diadakan setahun sekali. ''Ini sebagai bentuk perwujudan ritual ruwat atau sedekah bumi, yang intinya penyampaian doa agar terhindar dari malapetaka, goda, celaka, keruwetan, dan kesialan,'' kata dalang ''kethek'' yang baru saja menerima anugerah satya lencana budaya 2004 dari pemerintah. Ritual bersih desa atau sedekah bumi, kata dalang sepuh Ki Sutino Hardoko Carito di Eromoko, lebih merupakan implementasi masyarakat dalam memanjatkan doa untuk memohon agar dihindarkan dari lilitan aura negatif sukerta, yang sering dipahami sebagai pembawa sial pada kehidupan. ''Bersih desa merupakan wujud permohonan keselamatan dan kemakmuran. Juga sebagai perwujudan rasa terima kasih pada alam semesta yang telah memberikan daya kehidupan pada manusia,'' kata dalang Kandabuwana. Wayang kulit pada ritual bersih desa merupakan media pengungkapan dan penyampaian doa yang dipandu oleh dalang. Biasanya lewat lakon ruwatan seperti Sesaji Raja Sunya, Sri Mulih, Murwakala, dan Patih Udan Agung. Melalui media wayang, dalang dapat menyampaikan pemanjatan doa, lengkap dengan jantur kala mur, sampurnaning puja, santipurwa, santi kukus, caraka balik, bala srewu, banyak dalang, pangruwat kala, kumbalageni, dan lain-lain. Sebagai kelengkapan, juga diadakan sesaji ruwat yang berjumlah beraneka macam. (Bambang Pur-49s) |