logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 24 Februari 2004 Berita Utama  
Line

PBNU Akan Panggil Para Kiai

  • Terkait Dukungan terhadap Tutut

''Saya belum tahu, belum dengar. Baru tahu dari Anda. Nanti kalau kiai-kiai datang mau saya tanya, kenapa ke situ. Kalau saya mengira-ngira kan nggak bagus.''

JAKARTA- Sejumlah kiai NU dari Jawa Timur, Senin (23/2) kemarin mendatangi kediaman mantan presiden Soeharto di Jl Cendana 9 Menteng, Jakarta Pusat. Bahkan, mereka mengisyaratkan untuk mendukung pencalonan putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut), yang diajukan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) sebagai capres pada pemilu mendatang.

Kunjungan beberapa kiai yang dipimpin KH Fawaid Ali dari Situbondo dan KH Zanzawi dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, itu terjadi hampir bersamaan dengan pembukaan Konferensi Cendekiawan Islam Sedunia di Balai Sidang Jakarta yang diprakarsai PBNU. Karena itu, peristiwa tersebut langsung mengundang reaksi dari Ketua PBNU Hasyim Muzadi dan Ketua PWNU Jatim Ali Machsan Musa yang hadir pada acara tersebut.

Kepada wartawan, baik Muzadi maupun Ali mengaku tidak tahu-menahu tentang adanya pertemuan tersebut. Karena itu, dia akan mengklarifikasi kepada para kiai yang datang ke Cendana. ''Saya belum tahu, belum dengar. Baru tahu dari Anda. Nanti kalau kiai-kiai datang mau saya tanya, kenapa ke situ. Kalau saya mengira-ngira kan nggak bagus,'' kata Hasyim.

Ali juga mengaku tidak mengetahui kedatangan para kiai ke Cendana. Dia tidak bisa memastikan apakah mereka yang menemui Soeharto adalah kiai NU, karena memang tidak mengetahui. Tapi dia memastikan langkah tersebut di luar kebijakan dan sepengetahuan PWNU.

''Beberapa kiai (NU), ya bisa saja, mungkin. Tapi di luar struktur PBNU. Kalau itu memang NU kan saya pasti tahu. Jadi itu di luar PBNU, dan saya nggak tahu-menahu,'' tegasnya.

''Bisa kiai atau mengaku kiai. Yang jelas harus dipisahkan. Itu bukan NU dan bukan kiai yang menjadi pengurus NU,'' tambah Ali.

Menjadi Keprihatinan

Saat menjawab apakah kunjungan itu tidak dikhawatirkan akan mendorong timbulnya politik uang, Ali mengatakan, ''Justru itu yang menjadi keprihatinan kita kalau memang ada beberapa kiai datang ke sana.''

Baik Muzadi maupun Ali menandaskan, kalau memang kedatangan mereka atas nama pribadi, maka pihaknya menyerahkan kepada individu masing-masing. Namun secara kelembagaan, menurut Ali, warga NU disarankan untuk menunggu keputusan munas.

Dalam keterangan persnya setelah pertemuan, KH Zanzawi mengungkapkan, kunjungannya selama kurang dari setengah jam ke Cendana itu ada dua keperluan. ''Pertama untuk silaturahmi. Dan kedua untuk menanyakan kabar kesehatan Pak Harto,'' kata dia.

Menurut dia, kedatangan mereka ke rumah mantan pemimpin Orde Baru itu merupakan kunjungan balasan atas kunjungan Mbak Tutut ke pesantren mereka pada 19 Februari lalu. Meskipun mereka menyangkal ada agenda politik di balik pertemuan tersebut, mereka tidak memungkiri jika nanti para kiai NU Jatim itu akan menjatuhkan pilihannya kepada Tutut pada pemilihan presiden mendatang.

Kiai Zanzawi mengaku, meski sangat singkat Soeharto menyatakan senang mendapat kunjungan para kiai. ''Dia positif sekali ditengok oleh kiai-kiai. Dia sangat gembira, berterima kasih ditengok,'' katanya.

Mengenai kesehatan Soeharto, dia melihat kondisi mantan orang nomor satu di Indonesia itu kini kembali menurun. Dalam pertemuan itu Soeharto tidak sanggup berbicara, bahkan sesekali mengeluh tentang asam urat dan penyakit gula yang dialaminya. Setelah pertemuan, para kiai meninggalkan Cendana dengan menumpang minibus Mercedes Benz.

Sementara itu, saat menyinggung pencalonannya sebagai presiden, Muzadi mengaku dirinya hingga kini belum dilamar oleh satu partai pun, baik untuk menjadi calon presiden maupun wakil presiden. Dia pun menyerahkan hal itu kepada partai-partai. ''Kalau pencalonan itu bukan urusan NU, urusan partai. Urusan partai tidak boleh dikomentari oleh NU,'' tandasnya.

Tentang penegasan salah seorang tokoh NU agar warga NU mempertimbangkan untuk mendukung capres/ cawapres dari NU, dengan tegas Hasyim Muzadi menyatakan tidak ada keharusan seperti itu. ''Tidak ada harus, yang ada mempertimbangkan. Jadi mempertimbangkan itu tidak ada keharusan, tetapi seyogianya.''

Ketika didesak menjelaskan lebih lanjut, dia mengatakan, ''Tidak harus, tidak harus, tidak harus. Tidak harus itu tidak wajib!''

Muzadi menolak menanggapi keputusan PKB yang tetap mengajukan Gus Dur sebagai capres dari partai itu. ''Kalau PKB mengambil keputusan, Anda mesti tanya ke PKB, jangan tanya ke NU,'' ujarnya.

PBNU pun, menurut dia, tidak akan mengajukan calon, karena NU bukan partai politik. Tapi siapa capres/cawapres yang direkomendasikan untuk dipilih oleh warga NU, pada saatnya akan disampaikan. ''Lha ya nanti. Nantilah kalau sudah selesai,'' tandasnya. (A20-33t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA