logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 24 Februari 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Satu Minggu Ervina Koma

  • Penderita Hydrochepalus Tiga Kali Dioperasi

ERVINA Octa Ervina, bayi berusia 12 bulan tergolek tak berdaya di Ruang Theresia No 211 Rumah Sakit Elisabeth. Selang infus yang dipasang di hidung bayi mungil berkulit kuning itu menetes seirama dengan hitungan detik . Tubuhnya kurus kering, seolah terasa berat mengangkat kepalanya yang membesar.

Tangis pasien lain di ruangan yang dihuni oleh enam anak ini tetap tak membuat putri pasangan Joko Waluyo (26) dan Eriyanti (21) terusik.

Sejak Sabtu (14/2) pekan lalu, Ervina mengalami koma setelah dioperasi untuk kali ketiga terkait dengan penyakit yang dideritanya sejak berusia enam bulan, yakni hydrochepalus (pembesaran kepala akibat tersumbatnya aliran cairan otak atau produksi cairan otak yang berlebih).

Joko, orang tua Ervina yang bekerja sebagai cleaning service di Java Supermall, hanya pasrah melihat kondisi anaknya. ''Kata dokter, anak saya koma karena ada infeksi di saluran kemih dan radang otak setelah dioperasi pada Sabtu (21/2),'' tutur Joko saat ditemui Suara Merdeka.

Joko juga meminta Suara Merdeka untuk tidak mengambil gambar dahulu karena dia tidak tega menyaksikan anaknya dalam kondisinya belum sadar.

Cairan Kepala

Operasi itu, lanjut dia, merupakan operasi ketiga kalinya setelah pada Desember 2003 dan Januari 2004 dilakukan untuk penyedotan cairan di kepala. Pada operasi terakhir Januari lalu, kepalanya sedikit lebih mengecil. Namun, saat satu minggu dibawa pulang ke rumahnya di Jalan Belimbing 7 No 21 Semarang, kondisi Ervina justru bertambah parah.

Menurut Joko, keterangan dokter menyatakan anaknya mengalami infeksi saluran kemih dan radang otak.

''Saat akan saya bawah ke rumah sakit, selang di perutnya sampai keluar,'' paparnya.

Setelah dioperasi itulah, Joko dan istrinya tidak bisa lagi melihat anaknya tersenyum atau menangis minta susu. Selama koma, makanan dimasukkan lewat hidung. ''Mungkin keajaiban Tuhan saja yang bisa membuat anak saya kembali sadar.''

Joko menceritakan semula dia hanya menganggap sebagai demam biasa. Namun, ditunggu beberapa hari demam tersebut tak kunjung turun. Setelah diperiksakan ke dokter, hasil diagnosis menyatakan Ervina menderita hydrochepalus.

Pasangan muda ini juga bersyukur seluruh biaya operasi ditanggung oleh sebuah yayasan sosial Pelayanan Kasih Hydrochepalus (PKH) Rumah Sakit St Elisabeth. Namun, untuk obat dan biaya rawat inap masih harus ditanggung sendiri. Pekerjaannya sebagai cleaning service sangat tidak memungkinkan untuk menutup seluruh biaya yang dikeluarkan.

Dia kini hanya berharap uluran tangan dari para dermawan. Adakah pembaca yang tergerak hatinya? (Arie Widiarto-45k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA