
| Selasa, 24 Februari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
80 Kelurahan Termasuk Daerah EndemikBALAI KOTA - Di Kota Semarang terdapat 80 kelurahan yang merupakan daerah endemik demam berdarah. Artinya, di wilayah-wilayah itu setiap tahun selalu ada penderita demam berdarah. Penjelasan itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr Hadi Wibowo MMR, Senin (23/2) terkait dengan merebaknya penyakit mematikan itu di Kota Semarang. Dia menyebutkan, kriteria daerah endemik adalah jika selama tiga tahun berturut-turut terdapat penderita DB di daerah tersebut. Pada daerah-daerah seperti itu, baik pemerintah maupun masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan. Dia belum bersedia memberikan data mengenai kelurahan yang menjadi daerah endemik, namun dia memperkirakan ada sekitar 80 kelurahan. Dia menjelaskan, ledakan demam berdarah diperkirakan akan terjadi pada Mei. Namun berdasarkan pantauan di lapangan dan pengalaman, penyakit itu justru merebak pada Januari-Februari. Pada Januari dilaporkan ada 67 kasus DB dengan 2 korban meninggal dunia. Sementara itu pada Februari ini terdapat 13 kasus dengan 1 korban meninggal dunia. ''Ledakan demam berdarah terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan karena warga lalai menjaga kebersihan lingkungan,'' ujarnya. Antisipasi demam berdarah, menurut dia, tidak cukup hanya dengan penyemprotan atau fogging. Penyemprotan hanya mampu membasmi nyamuk dewasa, namun tidak dapat mematikan jentik-jentiknya. Untuk mengantisipasi merebaknya penyakit tersebut, warga harus berperilaku hidup sehat. Antara lain, setiap hari menjaga kebersihan rumah, sanitasi, dan makanan. Pola hidup sehat, lanjut dia, tidak cukup hanya dilakukan di rumah. Kamar mandi sekolah, warung-warung sekolah, bahkan rumah sakit, juga harus dibersihkan agar tidak menjadi tempat sarang nyamuk penular DB. Saat ini Dinas Kesehatan Kota Semarang (DKK) sudah melakukan prosedur tetap untuk memetakan daerah-daerah rawan DB.
Penyemprotan akan dilakukan jika daerah itu merupakan daerah endemik. Tindakan serupa juga dilakukan jika tim pemantau sanitasi menemukan angka jentik lebih dari 5%. Upaya penanggulangan demam berdarah dilakukan pada semua wilayah. Pembinaan kepada warga dilakukan di berbagai tempat, termasuk di luar daerah endemik. ''Jika warga di luar daerah endemik menginginkan lingkungannya disemprot, mereka bisa menghubungi swasta,'' kata dia Ajak Warga Sementara itu, di berbagai kecamatan dan kelurahan, upaya penanggulangan demam berdarah sudah mulai dilakukan. Warga di Klipang, Kelurahan Sendangmulyo, Tembalang, beberapa hari terakhir ini sudah mulai melakukan kerja bakti. Sementara itu di beberapa daerah lain, kegiatan semacam itu akan dilakukan dalam waktu dekat. Lurah Rejomulyo, Alfonso Tuames mengatakan, ada kemungkinan wilayahnya termasuk daerah endemik. Pada kelurahan itu sudah ada dua penderita demam berdarah yang sempat dirawat di Puskesmas Karangndoro. Walaupun hanya berupa puskesmas, tempat pelayanan kesehatan itu dilengkapi fasilitas rawat inap. Saat ini, kata Alfons, kedua warganya yang tinggal di Kampung Gedongsari itu sudah menunjukkan tanda-tanda sembuh dan sudah pulang. Namun pihaknya akan tetap melakukan koordinasi dengan puskesmas untuk meminta penyemprotan. Dia juga akan segera mengajak warga untuk melaksanakan kerja bakti massal. Sasarannya utamanya adalah membersihkan lingkungan, terutama tempat-tempat yang potensial menjadi sarang nyamuk. Sambil menunggu program itu dilaksanakan, warga sudah diajak untuk membersihkan lingkungan masing-masing. ''Dalam program kebersihan lingkungan, sekolah-sekolah di Rejomulyo juga akan dilibatkan. Sekolah Karangturi sudah melakukan penyemprotan sendiri,'' kata dia. Penjelasan senada disampaikan Camat Semarang Tengah, Arief Moelia Edhie. Dia mengatakan, dengan dibantu PKK, pihaknya akan menyelenggarakan kegiatan kebersihan massal pada Jumat (27/2) mendatang. Namun sebelumnya dia meminta para lurah untuk mengajak warganya membersihkan lingkungan masing-masing. Bentuknya adalah melaksanakan program 3M, yakni mengubur botol dan kaleng-kaleng bekas, menutup tempat penyimpanan air, dan rutin menguras bak atau tandon air. Dia mengatakan, permukiman di Semarang Tengah cukup padat. Hal itu menjadi salah satu potensi penyebaran demam berdarah secara cepat. Namun dia belum menerima laporan bahwa di wilayah itu ada warga yang sudah terserang. Program sosialisasi penanggulangan demam berdarah sudah dilakukan sejak beberapa bulan silam oleh Camat Ngaliyan, Supratono. Dia mengatakan selalu berusaha mengikuti perkembangan keadaan melalui surat kabar. Setiap ada berita yang menurutnya penting, termasuk di antaranya demam berdarah, selalu dikumpulkan. Berbagai informasi dari media itulah yang kemudian dibahas dalam rapat koordinasi se-Kecamatan Ngaliyan. Kegiatan itu tidak hanya diikuti para lurah, tetapi juga instansi terkait, termasuk dari Dinas Pendidikan. ''Pada kegiatan semacam itu saya mengajak berbagai pihak menanggulangi demam berdarah secara terpadu,'' kata dia. (Nik,G6-73n) |