
| Selasa, 24 Februari 2004 | Jawa Tengah - Banyumas |
Doa Bersama di Puncak Slamet
SEKITAR 40 orang dari masyarakat wisata Banyumas dan Baturraden, Sabtu (21/2) lalu memulai acara bersih-bersih Gunung Slamet. Kegiatan tersebut dirangkai dengan acara Selamatan Tahun Baru 1 Sura 1425 Hijriyah, Sabtu malam dan Minggu (22/2), di puncak gunung tersebut. Senin (23/2) sore kemarin, mereka baru turun kembali. Kegiatan bersih-bersih gunung dan selamatan di puncak Gunung Slamet itu tergolong unik dan menantang. Sebab tradisi tersebut dianggap menyalahi pakem (kebiasaan) masyarakat Banyumas (panginyongan) dalam menyambut Tahun Baru Sura. Tradisi Suran yang sudah melembaga di masyarakat Banyumas pada umumnya dilakukan hari Selasa atau Jumat Kliwon (penanggalan Jawa) pada awal bulan tersebut. Namun 1 Sura kemarin jatuh pada Minggu Wage. Manshur, pengurus Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden (PMPB) yang memfasilitasi acara selamatan itu, kemarin mengatakan, kegiatan tersebut diawali dengan penjelajahan lokasi jalur pendakian ke Gunung Slamet lewat Baturraden (objek wisata Pancuran Tujuh). Setelah sampai di puncak, mereka melakukan selamatan. Acaranya sederhana, cukup memanjatkan doa dan makan makanan yang dibawa serta bersih-bersih gunung. ''Hari Sabtu lalu sekitar pukul 04.00, mereka berangkat. Setelah menempuh perjalanan sekitar sembilan jam, siang harinya mereka tiba di puncak, dan malam Minggunya acara dilanjutkan dengan selamatan Suran di puncak gunung. Informasi terakhir kurir lapangan meyebutkan, cuaca di puncak pas cerah sehingga acara sederhana itu berlangsung dengan khidmat. Kalau perjalanan lancar, Senin (23/2) sore (kemarin) mereka sudah tiba lagi di Baturraden,'' ujar Manshur. Doa Bersama Ritual bersih gunung ini dilakukan setiap tahun. Bila waktu pergantian tahun bersamaan dengan hari Selasa atau Jumat Kliwon, acaranya biasanya besar-besaran. Sekarang memang berbeda karena waktunya tidak bersamaan dengan hari itu. Namun mereka yang menyakininya tetap menjalankan tradisi tersebut kendati bentuk acaranya sederhana. Tradisi itu dinyakini karena gunung tersebut sampai sekarang masih menyimpan sejuta misteri. Sebagai wujud syukur agar gunung tersebut tetap ''bersahabat'' dengan masyarakat di lereng gunung, mereka melakukan doa bersama di atas gunung. ''Bagi kami yang biasa hidup di lereng gunung, kepercayaan seperti ini sangat kami junjung tinggi,'' tambah Manshur. Kegiatan bersih gunung tersebut sengaja digabungkan dengan acara pembukaan jalur pendakian gunung yang masih aktif ini. Selama itu pendakian dari bagian selatan gunung tersebut yang sering dipakai hanyalah jalur pendakian Bambangan, Kutabawa, Kabupaten Purbalingga. Adapun bagian barat lewat jalur Bumijaya (Guci), Kabupaten Tegal, dan bagian utara lewat jalur Pulausari, Kabupaten Pemalang. Sebelumnya Kepala Pengelola PT Palawi Unit Kerja WW Baturraden Rudianto A mengatakan, pembukaan jalur pendakian Baturraden itu juga merupakan rangkaian dari kegiatan ''Grebeg Sura Baturraden 2004''. ''Grebeg Suranya akan dilaksanakan tanggal 7-8 Maret 2004 yang dirangkai dengan acara sedekah bumi masyarakat Baturraden. Bentuknya berupa kirab prosesi Grebeg Sura menuju Situs Baturraden dan wayang kulit ruwat bumi. (Agus Wahyudi-20n) |