logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 24 Februari 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Pedagang Mengeluh Sepi Pembeli

  • Setelah Pindah ke Pasar Darurat

PEKALONGAN - Beberapa pedagang Pasar Banjarsari Kota Pekalongan mengeluhkan sepinya pembeli di pasar darurat di Lapangan Sorogenen yang berjarak 2-3 km dari Pasar Banjarsari.

Karena itu, beberapa di antara mereka terpaksa kembali ke depan Pasar Banjarsari untuk berjualan. "Kami terpaksa nekat berjualan di dekat pasar lama agar bisa menghidupi keluarga," ujar beberapa pedagang sembako yang ditemui Suara Merdeka, kemarin.

Mereka mengatakan, sebenarnya sesuai dengan ketentuan dari Pemkot, setelah pasar dirobohkan, pedagang dalam pasar harus pindah ke pasar darurat mulai 18 Februari lalu. Namun, selama lima hari sejak mereka pindah, pembeli sepi. "Bahkan, beberapa hari hampir tidak ada pembeli, sehingga kami kembali keluar," kata Semi, pedagang sembako.

Para pedagang mengakui, pembeli di dekat pasar lama yang sudah dirobohkan lumayan banyak, meski tidak sama dengan ketika berjualan di dalam pasar sebelum dirobohkan.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar (IPP) Banjarsari M Pitoyo yang dihubungi mengakui soal penjualan di lokasi pasar darurat masih sepi. "Dibandingkan dengan ketika berjualan di dalam Pasar Banjarsari, omzet kami turun sekitar 50%," kata Pitoyo yang sehari-hari berjualan sembako. Hal itu karena di pasar lama masih banyak pedagang yang berjualan.

Bahkan, beberapa pedagang yang sudah masuk ke pasar darurat kembali keluar berjualan di Pasar Banjarsari. Diperkirakan baru 1.000 pedagang yang mau berjualan, meski masih sepi pembeli. Mestinya, kalau pedagang pindah secara serentak, pembeli tentu akan mencari sendiri. Namun, jika tidak serentak, pasar darurat akan sulit berkembang.

"Yang membuat kami jengkel adalah kurang tegasnya Pemkot dalam pemindahan itu. Katanya dalam jarak 300 meter dari Pasar Banjarsari pedagang tidak boleh berjualan. Kenyataannya pedagang masih bisa membuka tempat jualan di trotoar tanpa ada larangan. Bahkan, ada yang menggelar dasaran di pinggir badan jalan. Ini yang membuat penjualan di pasar darurat terhambat."

Bertanggung Jawab

Karena itu, dia berharap Pemkot bertindak tegas sekaligus menangani kios darurat dengan baik, antara lain segera menyalakan listrik, memagari dengan seng yang kuat, dan menambah petugas keamanan. "Dalam hal ini, ketua tim pembangunan harus tanggap dan bertanggung jawab," tegasnya.

Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Pekalongan Drs Abdul Kholiq Atmahares SH mengatakan, dalam pemindahan pedagang itu pihaknya memprioritaskan pedagang dalam pasar, baru kemudian memindahkan pedagang beceran.(A15-15e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA