logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 23 Februari 2004 Tajuk Rencana  
Line

Sektor Riil, Tumpuan Perubahan Ekonomi

- Agenda penting yang akan dilakukan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) yang baru Mohamad S Hidayat yakni segera menggerakkan dan menyelamatkan sektor riil merupakan langkah yang tepat. Selama ini sektor itu memang relatif terhambat, sehingga roda perekonomian pun belum berputar cepat. Pertumbuhan yang sekitar 4% masih lebih banyak ditopang oleh sektor konsumtif yang didukung oleh kredit konsumtif dari perbankan. Adapun aktivitas sektor riil seperti investasi dan perdagangan relatif kecil. Kredit bank yang mengucur untuk kegiatan itu pun belum terlalu besar karena berbagai faktor kendala. Pertanyaannya, apa yang bisa dan akan dilakukan untuk kembali menggairahkan sektor riil tersebut?

- Salah satu penopangnya adalah industri. Selama ini utilisasi industri belum maksimal karena belum membaiknya sektor riil dan pada gilirannya akan berdampak pada kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Pertumbuhan sektor industri sebelum krisis rata-rata 9% bahkan pernah 12% setahun. Setelah krisis ekonomi 1997, pertumbuhannya melemah menjadi kurang dari 5% per tahun. Karena itu, tantangan sekarang adalah bagaimana kembali menggairahkan sektor industri. Bisa berupa ekspansi, pemenuhan kapasitas terpasang dan pendirian pabrik yang benar-benar baru. Sayang sekali hal itu belum terjadi, sedangkan beberapa yang sudah ada mulai memperoleh kesulitan, sehingga hengkang dari Indonesia.

- Kadin sebagai organisasi pengusaha sebenarnya bisa berbuat banyak. Walaupun bukan penentu kebijakan, mereka bisa menjadi partner strategis pemerintah dalam merumuskan kebijakan terutama yang akan mampu memberikan insetif bagi dunia usaha. Pemerintah terutama menteri-menteri perekonomian tentu sangat membutuhkan masukan dari kalangan pelaku usaha. Apakah sebenarnya yang terjadi di lapangan? Hambatan-hambatan apa saja yang masih dihadapi sampai sekarang? Sudahkah pemerintah responsif dan aspiratif terhadap keluhan-keluhan dunia usaha itu? Pertanyaan-pertanyaan itu perlu segera memperoleh jawaban. Kadang-kadang kita mendengar ada kerenggangan hubungan antara Kadin dan beberapa menteri.

- Beberapa kendala yang sering disebutkan adalah menyangkut masalah teknis, keterbatasan infrastruktur, serta situasi politik dan ekonomi secara makro. Masalah teknis, misalnya menyangkut soal fiskal, kepabeanan, dan perizinan merupakan masalah lama tapi belum sepenuhnya teratasi sampai sekarang. Lalu, black economy, itu juga lagu lama. Dalam beberapa hal, pengusaha sudah mampu menyesuaikan diri, tapi bila hal ini keterusan pasti juga akan menjadi gangguan serius. Bagaimana soal tarif fiskal atau bentuk insentif lain? Bila dibandingkan dengan negara-negara lain, tampaknya kita perlu melakukan banyak perubahan. Revisi Undang Undang Perpajakan agar menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan baru.

- Soal kredit bank, kendalanya tidak saja ada pada internal perbankan, tapi juga pada keraguan dunia usaha. Bagi bank, trauma kredit macet masih sangat membayang. Krisis ekonomi dan moneter yang juga meruntuhkan lembaga keuangan itu belum sepenuhnya mampu diselesaikan. Sekarang bank-bank mestinya sudah cukup kuat dan kelebihan likuiditas. Antara lain, hal itu terlihat dari pencapaian angka capital adequacy ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal yang cukup besar. Namun, masalahnya belum ada keberanian atau di sisi lain sikap yang ekstra berhati-hati dari bank yang mengakibatkan pencairan kredit belum lancar. Sebagian besar berupa kredit konsumtif, yakni kredit untuk membeli barang-barang konsumtif seperti mobil dan rumah.

- Keraguan bukan hanya milik para bankir. Para pengusaha juga masih waswas melihat keadaan. Paling tidak itu terlihat dari banyaknya permohonan investasi baru yang telah disetujui tapi belum direaliasi. Termasuk juga kalangan investor asing. Dalam hal inilah kita melihat ada pengaruh situasi makro politik dan ekonomi. Selain itu, juga ketidakpastian hukum yang masih menjadi alasan klasik. Kalau saja keberanian segera ditumbuhkan dan kalangan perbankan pun tidak terlalu khawatir maka akan segera bertemu antara permintaan dan penawaran. Dengan demikian, sektor industri diharapkan segera tumbuh lebih cepat dan mampu menjadi lokomotif perekonomian seperti pada masa-masa lalu. Itulah kekuatan ekonomi yang sebenarnya.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA