logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 23 Februari 2004 Sala  
Line

Bangsal Anak Didominasi Pasien DB

  • Seorang Meninggal di Perjalanan

KOTA- Penyakit demam berdarah dengue (DBD) kembali memakan korban. Agung (11), warga RW 23, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Solo meninggal dalam perjalanan ke RS Dokter Oen Panti Kosala akibat serangan penyakit tersebut.

Dia tak terselamatkan lantaran mengalami dengue shock syndrome (DSS) atau DBD pada tingkat paling parah, beberapa hari sebelum pencanangan gerakan pemberantasan nyamuk (PSN) massal oleh Wali Kota H Slamet Suryanto di kelurahan itu, Minggu (22/2) kemarin.

"Berdasarkan penuturan warga, anak itu semula mengalami panas tinggi layaknya demam biasa. Dia lantas dibawa ke dokter terdekat dan dirawat jalan. Beberapa kali demamnya turun, tapi naik lagi dan hanya dirawat jalan. Tak berselang lama, dia terlihat memiliki gejala seperti DBD dan langsung dilarikan ke RS tetapi tak tertolong," ujar seorang Bambang, warga RT 3 RW 24, Kelurahan Nusukan kepada wartawan.

Menurut salah seorang aparat kesehatan yang enggan disebutkan namanya, kematian siswa kelas 5 SD tersebut akibat penangananyang terlambat. Dia mengatakan, seharusnya warga responsif bila di lingkungannya ada anggota masyarakat yang memiliki gejala seperti DBD dan segera dibawa ke puskesmas atau RS terdekat.

"Kalau sudah ada gejala DBD, jangan ditunda-tunda untuk dibawa ke RS. Jangan sampai seperti anak itu yang terlambat ditangani," kata dia.

Penuh

Sementara itu, dua bangsal anak-anak di RS Dr Moewardi, beberapa hari terakhir didominasi pasien DBD. Dari 12 tempat tidur yang terdapat di bangsal tersebut, sembilan di antaranya pasien DBD dan sisanya tipus serta penyakit lain. Jumlah tersebut belum termasuk yang berada di ruang perawatan lain seperti intensive care unit (ICU) ataupun ruangan kelas 1 dan 2.

"Akhir-akhir ini memang terjadi peningkatan pasien anak yang memiliki gejala klinis DBD. Bangsal anak juga dipenuhi pasien tersebut dan jumlahnya signifikan," ungkap dokter anak RS Moewardi dr Harsono Salimo SpA.

Menurut penuturan warga RW 23, selain Agung yang tak terselamatkan, ada seorang anak lagi yang juga memiliki gejala DBD. Bocah berusia sembilan tahun bernama Heppy, juga memiliki gejala klinis seperti panas, demam, dan pendarahan seperti mimisan serta bintuik-bintik di kulit.

Namun, gadis kecil itu lebih beruntung karena orang tuanya tanggap dan segera membawanya ke rumah sakit sehingga nyawanya tertolong.

Warga menduga, nyamuk DBD berkembang biak di saluran air yang berada tak jauh dari hunian mereka. Saluran itu merupakan anak Sungai Kalianyar yang sejak beberapa waktu tak bisa mengalir. Penyebabnya, ada perbaikan di dekat Jembatan Ngemplak sehingga airnya mampat. (G18-86j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA