
| Senin, 23 Februari 2004 | Sala |
Berebut Dekat BangsawanKIRAB Pusaka Dalem Pura Mangkunegaran baru usai. Sejumlah senjata keramat juga telah dikembalikan ke Gedhong Pusaka. Namun, masyarakat yang sejak sore memenuhi halaman dan Pendapa Ageng tak juga beringsut dari tempatnya. Lihatlah, ketika para bangsawan Pura (termasuk KGPAA Mangkunagoro IX beserta istri dan putranya) bersiap menyebarkan udik-udik, ratusan orang itu merangsek maju. Mereka berebut posisi sedekat mungkin dengan para bangsawan di Pringgitan. Bersamaan dengan penyebaran udik-udik, suasana menjadi kacau. Kerumunan orang itu berebut mendapatkan racikan bunga dan kepingan uang logam tersebut. Mereka saling desak dan dorong. Karena itu, di antara mereka ada yang terinjak-injak setelah terjatuh di antara kerumunan. Tidak mudah untuk mendapatkan sebaran udik-udik. Ada risiko untuk memperolehnya. Meski demikian, di antara mereka tampak banyak perempuan lanjut usia ikut berdesakan. Begitulah ketika sebaran udik-udik berlangsung di Pura Mangkunegaran, Sabtu malam lalu. Itu baru sebagian dari acara ritual penyambutan malam 1 Sura. Hal serupa juga terjadi pada acara lainnya. Misalnya, acara pembuangan air bekas jamasan pusaka dan pembagian nasi bungkus. Adapun di Keraton Surakarta Hadiningrat, selain sebaran udik-udik, ada juga kirab pusaka dan Kebo Kyai Slamet.
Saat itu akan tampak pemandangan serupa dengan sebaran udik-udik di Pura Mangkunegaran. Di Keraton, masyarakat tidak sekadar berebut udik-udik atau air bekas jamasan pusaka. Mereka bahkan berebut kotoran Kyai Slamet. Pemandangan itu mungkin tak bisa dinalar bagi orang awam. Namun, itulah yang terjadi saat Pura Mangkunegaran dan Keraton Surakarta Hadiningrat menyelenggarakan acara ritual penyambutan malam 1 Sura. Apa yang membuat masyarakat mau bersusah untuk mendapatkan udik-udik, air bekas jamasan pusaka, bahkan kotoran hewan? Ini tentu ada hal yang melatarbelakangi. Laku Tirakat Seorang penduduk asal Tawangmangu, Dirlan, menyatakan, apa yang dia lakukan bersama para tetangganya pada setiap malam 1 Sura itu merupakan bentuk laku ritual masyarakat Jawa yang masih memegang tradisi leluhur. "Entene kula nglakoni kados makaten punika, amargi kula ngurmati dateng piwulangipun para luluhur. Menawi bade gangsar samukawisipun, inggih kedah purun nglambari kanthi laku tirakat (Mengapa saya melakukan hal seperti ini, karena saya menghormati petuah para leluhur. Kalau mau semuanya lancar, harus mau mendasari dengan tirakat)," papar lelaki yang mengaku datang ke Pura Mangkunegaran dengan berjalan dari Tawangmangu. Dia pun menjelaskan, dengan laku itu usahanya sebagai petani bisa lancar. Apapun yang ditanam, panenannya selalu berhasil meskipun kadang tidak selalu melimpah. "Niki lo asile tiyang tirakat niku (Ini lo hasilnya orang tirakat)."
Hal sama juga diungkapkan Sahudi, dari Kedung Ombo Boyolali. Dia pun melakukannya sebagai bentuk tirakat. Karena itu, meski sudah 20 tahun dilakukan, hal itu tidak pernah membuat dia bosan atau jera. Sebaliknya, dia justru semakin menikmati apa yang dia lakukan pada setiap malam 1 Sura. "Pancene makaten, kula bade ngalap berkah. Mugi-mugi kanthi laku kados makaten, Gusti (Tuhan) tansah ngijabahi sedaya laku jontro kula sakkulawarga (Memang, saya ingin ngalab berkah. Semoga melalui cara seperti ini, Tuhan selalu memberikan rahmat pada kegiatan saya dan keluarga)."(Wisnu Kisawa-42i) |