
| Senin, 23 Februari 2004 | Sala |
Pemeran Galih Digoda PengunjungMANGKUNEGARAN - Putra tertua KGPAA Mangkunagoro IX, GRM Paundra Karna Sukmaputra (27), kembali menjadi bintang pada acara ritual prosesi kirab pusaka menyambut 1 Sura di Pura Mangkunegaran, malam Minggu pukul 19.00. Ia digoda banyak pengunjung. Nama asli dan nama perannya sebagai Galih di sebuah sinetron, sering dipanggil-panggil masyarakat. Namun menurut dia, hal itu justru sebagai cara yang baik untuk mendekatkan generasi muda pada budayanya sendiri. "Saya sadar, sekarang lagi diperhatikan orang. Ini malah membuat saya beruntung. Sebab saya menjadi mediator untuk mengenalkan dan mendekatkan kalangan generasi muda dengan budaya Mangkunegaran," tegas dia saat diwawancarai para wartawan, seusai bertugas memanggul pusaka, mengikuti kirab keliling tembok Pura Mangkunegaran, Sabtu malam. Dia menyatakan terima kasih, dirinya diangap kian eksis sebagai selebriti. Namun dia lebih beruntung karena dilahirkan dari lingkungan komunitas budaya. Di saat itu, dia menyadari momentum yang sangat menguntungkan, yaitu dirinya menjadi magnet kalangan muda yang melihat prosesi kirab ritual pura. "Saya menyadari, sebagai seorang anak dari lingkungan budaya seperti ini, harus mulai mengambil peran apa pun untuk mematangkan diri dan mengenali lingkungan. Sebab , kami adalah generasi penerus yang akan bertugas menjaga kelangsungan budaya kita," ujar dia.
Sementara itu permaisuri GK Putri Mangkunagoro seusai menjalankan tapa mbisu mengikuti kirab pusaka menyatakan, berjalan kaki sambil berkonsentrasi hanya pada prosesi kirab pusaka, merupakan utang yang harus dibayar lunas saat peringatan 1 Sura. Bersama anaknya, GRM Paundra, GRA Ancillasyura, dan GRM Brhe Cakra, dia taat mengikuti prosesi kirab. Dia menjalankan ritual itu sebagai prosesi doa. Sebab, ungkap dia, prosesi itu adalah doa keprihatinan pura terhadap kondisi dan situasi bangsa dan rakyat Indonesia. Apalagi kini banyak bencana alam terjadi. "Keinginan saya untuk lelaku dan menjalani prosesi doa dalam kirab itu, sudah terlaksana. Namun saya tidak puas sampai di situ. Artinya, kami akan terus berdoa agar bangsa kita benar-benar diberi ketabahan dan kekuatan untuk menghadapi bencana," ujar permaisuri. Setelah berjalan mengikuti kirab bersama ibunya. Yuya, begitu panggilan akrab GRA Ancillasyura, tampak masih tegar, sedangkan GRM Brhe, adiknya, sudah tampak penat dan kerap menguap karena mengantuk. "Saya ingin lagi, masih mau. Wong ini yang aku tunggu-tunggu. Seneng deh," ungkap Yuya. "Aku sudah mengantuk. Capek," kata Brhe, singkat. Di sela-sela memimpin upacara pelepasan prosesi kirab, menerima tamu, dan menebar udik-udik serta tabur kembang, KGPAA Mangkunagoro IX masih bersedia dikerubut para wartawan. Banyak wartawan TV dan media cetak, menanyakan perihal pencalonannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jateng bernomer 24 itu. "Saya tidak mungkin akan meninggalkan tahta untuk meraih anggota DPD. La wong untuk urusan seperti itu, kok harus mengorbankan yang lebih penting. Ya nanti dulu," kata dia berkelakar.(won,G19-86) |