logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 23 Februari 2004 Sala  
Line

Berbekal Bunga dan Setangkep Pisang Raja

JARUM jam menunjukkan pukul 22.30, Sabtu malam lalu. Meskipun puncak prosesi atau yang lazim dikenal dengan Pulung Langse baru digelar 21 Maret mendatang, malam 1 Sura terasa istimewa bagi para peziarah di Makam Balakan di Desa Mertan, Bendosari.

Di pendapa makam, 75-an peziarah menunggu giliran untuk memasuki makam Ki Ageng Balak. Sebagian duduk di atas selembar tikar yang disewa Rp 3.000/ malam. Sebagian lainnya menunggu giliran berdoa dengan duduk berjajar. Semua membawa nampan berisi bunga dan dupa sebagai perlengkapan untuk berziarah.

Yang unik, selain sesaji bunga, di atas nampan juga diletakkan selembar uang ribuan. Namun ada juga peziarah yang tak cukup dengan uang ribuan. Beberapa di antaranya menyelipkan Rp 5.000 atau Rp 10.000. Uang tersebut diserahkan ke juru kunci yang membantu mendoakan atau mengutarakan keinginan peziarah.

''Kedatangan kami ke sini adalah yang kali ketiga. Terus terang, setelah berziarah ke Makam Balakan, atas seizin Yang Maha Kuasa usaha kami menjadi maju,'' tutur seorang peziarah, Rohmad (48), yang mengaku asal Metro, Lampung.

Dia menjelaskan, dirinya mengetahui Makam Balakan dari saudaranya dari Sukoharjo. ''Merasa tertarik saya lalu ziarah ke sini. Bukannya kami neko-neko, kedatangan saya ke sini untuk berdoa kepada Tuhan agar usaha saya berdagang pisang antarpulau maju kembali. Alhamdulillah secara perlahan usaha saya kembali cerah seperti dahulu.''

Hal senada disampaikan Pardiyanto (39) dari Bantul yang mengaku sudah dua kali ziarah. ''Yang pertama, tepat saat acara Pulung Langse, tahun lalu. Pada acara penggantian kelambu makam tersebut, saya membawa pulang secarik bekas kelambu dan berdoa dia atas makam.''

Juru kunci makam Bambang Suwarman menuturkan, memasuki bulan Sura jumlah peziarah mulai meningkat. Puncaknya saat kegiatan Pulung Langse yang digelar setiap akhir Sura. Saat itu, ribuan peziarah ingin ngalap berkah dengan memperebutkan sesaji atau secarik kain bekas kelambu Makam Balakan. Saat itu juga kain kelambu diganti baru.

''Kalau malam selama bulan Sura biasanya jumlahnya ajek 200300 orang.''

Tak Memaksa

Perlengkapan sesaji, yaitu bunga, dupa, setangkep pisang raja, dan sebutir kelapa. Namun, perlengkapan itu tidak memaksa. Kalau memang hanya mampu menyediakan bunga juga tak masalah. Bahkan bagi yang tidak mampu menyediakan bunga pun tetap dilayani. Intinya, tidak ada paksaan dan diserahkan kepada masing- masing peziarah.

''Sebagian besar peziarah adalah pedagang di samping para pejabat. Namun, tak perlu saya jelaskan siapa saja mereka.''

Saat ditanya tentang keberadaan para WTS di sekitar makam, Bambang menekankan, hal itu tak berkaitan dengan prosesi ziarah. ''Saya rasa kondisinya sama, di setiap tempat yang ramai selalu menarik orang untuk mengais rezeki. Semua saya serahkan kembali kepada para peziarah untuk menyikapi. Perlu diketahui, banyak para peziarah datang ke sini untuk membaca surat Yasin dan tahlil.'' (Joko Murdowo-80j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA