logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 23 Februari 2004 Sala  
Line

GK Putri dan Tiga Putranya Tapa Mbisu

  • Peringatan 1 Sura

KERATON - Peringatan Tahun Baru Jawa 1 Sura yang jatuh 21 Februari ini mungkin menjadi saat dan suasana lebih mujur bagi masyarakat luas yang melaksanakan ritual tradisi Jawa itu.

Dalam suasana dan cuaca cerah, belasan ribu warga Solo dan sekitarnya memperingati pergantian tahun itu dengan tumpah ruah di jalan, saat prosesi kirab pusaka di Pura Mangkunegaran berlangsung pukul 19.00 dan prosesi di keraton berkeliling mulai pukul 01.00 Minggu dini hari.

Belum terbukti secara ilmiah, hubungan antara menghangatnya suasana politik menjelang Pemilu 2004 dan hawa yang sedikit panas, karena kirab pusaka menyambut 1 Sura kali ini tanpa hujan dan tiada berbasah-basah seperti beberapa tahun lalu.

Namun pada satu sisi, cuaca dan suasana seperti itu sangat mendukung persiapan dan pelaksanaan ritual terbesar baik bagi Keraton Surakarta maupun Pura Mangkunegaran dalam menyambut kedatangan Tahun Baru Jawa itu.

Saat yang mujur tampak sekali di Pura yang mengirabkan beberapa pusaka tombak dan rompi Pangeran Sambernyawa mulai pukul 19.15. Bahkan, antusias masyarakat kali ini agak berlebih mengingat Pengageng Pura KGPAA Mangkunagoro IX memerintahkan permaisuri dan anak-anaknya ikut bergabung.

Penampilan aktor sinetron Galih dan Ratna, GRM Paundra Karna Sukmaputra, yang beberapa kali peringatan 1 Sura ini ngampil atau memanggul pusaka seakan menjadi daya tarik tersendiri dari prosesi kirab itu.

Sebab, sepanjang jalan rute kirab keliling tembok Pura banyak "godaan" berupa sapaan dan panggilan nama perannya sebagai Galih yang terdengar ditujukan kepadanya.

Seperti tokoh dalam dunia pewayangan, Begawan Ciptoning, yang sedang digoda para bidadari, putra tertua KGPAA Mangkunagoro IX itu tetap berkonsentrasi dan pandangannya terfokus ke depan karena dalam ritual itu dia termasuk di antara orang-orang yang harus menjalani tapa mbisu atau bertapa menghindari berbicara.

Padahal, hampir semua "penggoda" itu adalah perempuan-perempuan ABG cantik yang sengaja menyaksikan kirab di Pura Mangkunegaran, dengan harapan bisa menyapa atau bersalaman dengan aktor pujaannya.

Sikap khusyuk dan selalu menjaga konsentrasinya diam, juga diperlihatkan permaisuri GK Putri Mangkunagoro dan dua anaknya yang lain, GRA Ancillasyura Marina Sudjiwo dan GRM Brhe Cakrahutama Wira Sudjiwo.

Tujuh Pusaka

Dua anak ini berpakaian adat, digandeng ibunya yang terus berjalan dalam sikap khidmat, berada di barisan GRM Paundra yang memanggul sebatang pusaka tombak.

Di barisan prosesi mengarak kurang lebih tujuh pusaka peninggalan para leluhur yang dipimpin GPH Herwasto Kusumo itu. Sementara itu, GRA Menur Agung Sunituti tidak tampak berjalan bersama.

Anak kedua KGPAA Mangkunagoro IX ini tidak jadi ikut kirab, karena mendadak ditugasi untuk mengurus uba rampe (perlengkapan-Red) yang akan dimanfaatkan untuk sebar udik-udik.

Rebutan air bekas jamasan dan kembang setaman, kemudian sebar bunga dan udik-udik yang berlangsung sebelum dan sesudah prosesi kirab pusaka merupakan rangkaian yang menarik di pura.

Namun, ngalab berkah 1 Sura yang tak kalah menarik dari berebut kembang dan air bekas jamasan adalah saat pembagian nasi bungkus di kompleks Kantor Pariwisata setempat, sekalipun jumlah persediaannya sudah dilipatgandakan dari 5.000 menjadi 10.000 bungkus.

Pura mengakhiri semua rangkaian ritualnya dengan tahlil dan zikir di Pringgitan mulai pukul 00.00 seiring dengan gelombang pelaku tapa mbisu yang terus mengalir mengelilingi tembok.

Kerumunan orang yang semula memadati lingkar dan dalam kompleks tembok Pura, sedikit demi sedikit bergeser ke lokasi kirab pusaka di keraton yang mengambil rute jalan protokol yang mengelilingi lingkar luar Kompleks Keraton Surakarta.

Mendekati pukul 00.00, konsentrasi massa betul-betul memusat ke rute kirab dan sekitarnya, misalnya Jalan Slamet Riyadi, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, dan Jalan Yos Sudarso. Ada 10 pusaka yang sebagian besar tombak, dikirabkan mengelilingi rute itu, dipimpin kawanan kerbau bule kelangenan dalem Kiai Slamet.

Kesepuluh pusaka yang melibatkan lebih kurang 100 petugas, ribuan pengiring, dan pengikut ritus doa dengan jalan kaki itu, baru dilepas Sri Susuhunan Paku Buwono XII pukul 01.15.

Walau ditopang tongkat berkaki tiga dan selalu dikawal KGPH Hangabehi dan GRAy Koes Moertiyah, "raja" masih mampu memberi komando, memberi tugas, dan mempersilakan Gus Dur, Akbar Tanjung, dan Jenderal (Purn) Wiranto serta tamu undangan lain menikmati kehadirannya ngalab berkah 1 Sura.

Tujuh ekor kerbau bule di depan memandu Prof KGPH Haryo Mataram, KGPH Kusuma Yuda, GPH Dipokusumo, GPH Suryo Mataram, GPH Suryo Wicaksono, dan beberapa sentana dalem lainnya yang membawa pusaka satu. Mereka kembali masuk keraton pukul 04.15.(won,G19-42j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA