logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 23 Februari 2004 Ragam  
Line

Interaktif Tasawuf

Salam adalah Ciri Muslim

T: Prof Amin yang saya hormati, saya bertanya tentang mengucapkan asalam Natal kepada umat Kristiani dalam pandangan Islam.

Yanti di Kudus

J: Saudara Yanti yang saya hormati, Islam mengajarkan kedamaian sesuai dengan kata Islam sendiri yang juga memiliki makna ''damai'' disamping bermakna ''penyerahan diri, keprasahan serta ketundukan,''. Oleh karena itu citra damai dalam diri Islam harus memancar dalam diri pemeluk-pemeluknya, sebagaimana Rasulullah Saw sendiri didesain Allah dalam Alguran sebagai pembawa misi rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin).

Atas dasar desain Allah ini pulalah Rasulullah Saw juga menyerukan kepada umat manusia khususnya umat Islam untuk menebarkan salam, sebagaimana tertuang dalam hadis dari 'Abdullah bin Salam bahwa Rasulullah Saw berkata: ''Wahai manusia, tebarkan salam, sambung tali kasih (shilaturrahim), berilah makan orang yang membutuhkan dan shalatlah di tengah malam yaitu pada saat manusia sedang tidur, maka kalian akan masuk surga dengan lancar (salam)'' (HR Ibn Majah).

Lebih jauh Rasulullah Saw menegaskan seruan menebarkan salam tidak mengenal batas, hal ini tersurat dalam hadis dari 'Abdullah bin 'Amr bin al-Ash, ia berkata: ''Seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw: Ber-Islam yang bagaimanakah yang baik itu ya Rasulullah?, beliau berkata: kalian peduli kepada orang lain dengan memberi makan dan mengucapkan salam terhadap mereka yang kalian kenal maupun yang tidak kalian kenal'' (HR al-Bukhari). Artinya siapa saja tanpa diketahui terlebih dahulu nama, dari keturunan siapa, apalagi latar belakang agamanya.

Berdasarkan hadis-hadis di atas menunjukkan Islam menyerukan kepada umat manusia khususnya kepada umat Islam untuk menjadi penentram bagi yang lain (tanpa membedakan agama, suku, bahasa dan lainnya) lebih-lebih kepada sesama muslim, sebagaimana Nabi Saw pernah menyatakan: ''Bahwa yang disebut sebagai orang muslim adalah orang yang memberikan rasa aman dan keselamatan bagi muslim lainnya dari akibat ucapan ataupun tindakannya.'' (HR al-Bukhari).

Terkait dengan soal Anda, yaitu mengucapkan salam Natal kepada orang yang merayakan memang terjadi perbedaan pendapat, namun hampir kesemuanya berpangkal pada sikap kehati-hatian dan dalam rangka memelihara akidah diri Anda dari pengaruh atau tercampur dengan akidah serta keyakinan agama lain. Oleh karena itu menurut saya, bila Anda telah mantap keimanan dalam menjalankan agama dan tidak akan terpengaruh lagi dengan keyakinan lain, maka mengucapkan salam Natal kepada mereka yang merayakannya tidak menjadi masalah.

Lebih-lebih bila mereka itu adalah tetangga Anda, dengan syarat ucapan tersebut semata untuk tetap memberikan rasa nyaman, senang dan bahagia bagi saudara Anda yang merayakan tersebut dan Anda tidak turut serta dalam ritual yang mereka lakukan.

Disamping itu ucapan Natal yang Anda sampaikan kepada mereka harus dimaknai sebagai ucapan selamat atas lahirnya Isa yang dalam kepercayaan Islam diimani sebagai salah satu utusan Allah, sekalipun mereka mungkin memahami Natal tersebut lain dari yang Anda yakini. Sebagaimana Allah berfirman: ''Selamat atau kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali'' (Qs Maryam/19:15).

Semua hal di atas menunjukkan citra Islam yang membawa kerahmatan bagi seluruh alam sekaligus menunjukkan tingginya toleransi Islam terhadap umat lain.

Salah satu bukti lain toleransi tersebut dapat dibaca dalam riwayat berikut ini yaitu tertuang dalam hadis dari Ibn 'Umar yang berpesan kepada pelayannya untuk memberikan daging kurban (Idul Adha) kepada tetangganya (seorang Yahudi), bahkan pesannya ini pun dilakukan berulang-ulang sehingga pelayannya pun keheranan dan bertanya tentang sebab apa ia begitu antusias terhadap orang Yahudi tersebut. Ibn 'Umar kemudian menjelaskan bahwa Nabi Saw pernah bersabda: ''Jibril berulang kali berpesan kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku mengira bahwa ia akan menjadikannya di antara para ahli waris'' (HR al-Bukhari).

Sebagai kesimpulan jawaban di atas, Islam cinta damai bahkan Islam menganjurkan umatnya untuk menebar kedamaian yang diekspresikan dengan ucapan salam ataupun tindakan salam (yang menyelamatkan, menentramkan atau mendamaikan). Namun kesemuanya harus dilandasi keimanan yang kokoh (tak tergoyahkan atau tidak ada keraguan di dalamnya). Wallahu a'lam bish shawab.(35)

Bagi yang berminat dengan rubrik ini, kirimkan surat ke alamat Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo, d/a LPK2 (Lembaga Pengembangan Keagamaan dan Kemasyarakatan) Jl. Boja Km 1, Ngalian Semarang, Telepon (024) 7601294. Di atas sebelah kiri amplop ditulis "Interaktif Tasawuf"


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA