logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 23 Februari 2004 Liputan Pemilu 2004  
Line

Pemilu 2004

Realistiskah Target PKB 56 Persen?

BUKAN Gus Dur jika ''gagal'' membuat sensasi! Beberapa waktu lalu, Ketua Umum Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mematok target perolehan suara sebesar 56 persen dalam pemilu mendatang. ''PKB menargetkan memperoleh 56 persen,'' tegasnya, seusai memberi pengarahan dalam Rakernas Pemenangan Pemilu dan Orientasi Juru Kampanye Nasional yang diadakan Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) PKB di Jakarta, pekan lalu.

Gus Dur optimistis, target itu bisa terpenuhi. Sebab, selama berkeliling ke sejumlah wilayah di Tanah Air, ia melihat dukungan pada PKB cukup besar.

Barangkali banyak orang bertanya, mampukah PKB memperoleh 56 persen suara yang berarti memenangi Pemilu 2004? Realistiskah target tersebut? Keraguan ini bisa dipahami karena (sedikitnya) tiga alasan.

Pertama, PKB masih mengalami imbas akibat konflik internal. Meski PKB pimpinan Alwi Sihab akhirnya mendapat pengakuan hukum, tetapi komponen pendukung Matori Abdul Djalil sulit diharap dukungannya terhadap kelompok Alwi.

Artinya, sebagian komponen pendukung Matori --masing-masing juga punya massa-- mungkin akan berafiliasi ke partai lain, atau bahkan memutuskan golput. Secara matematis, dengan asumsi kantung suara PKB tak berubah dari Pemilu 1999, suara PKB dalam pemilu mendatang akan berkurang.

Kedua, perolehan suara PKB dalam pemilu lalu hanya 12,6 persen suara. Provinsi yang dikuasai pun hanya satu: Jawa Timur. Bandingkan dengan PDI-P (33,7% suara / 11 provinsi) dan Partai Golkar (22,3 / 13). Dengan prediksi suara berkurang, lantaran imbas konflik internal dan kantung suara tak berubah, mungkinkah PKB melampaui target 12,6 persen?

Ketiga, dan ini yang paling krusial, belakangan muncul perselisihan antara Gus Dur dan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi. Isu inilah yang lantas ''ditangkap'' Ketua Umum DPP PDI-P Megawati dengan mengunjungi Pondok Pesantren Al Hikam di Malang, yang dikelola Hasyim Muzadi.

Tidak lama kemudian, Gus Dur mengajak Wiranto menemui KH Abdullah Faqih, salah seorang kiai khos, yang dimaknai sebagian orang sebagai tindakan balasan terhadap pertemuan Megawati-Hasyim Muzadi.

Situasi demikian berbanding terbalik dari suasana menjelang Pemilu 1999. Dulu, Hasyim terlibat aktif dalam penggalangan suara warga NU bagi PKB, meskipun dia memakai ''bahasa'' putusan hasil Muktamar Ke-30 NU di Lirboyo, Kediri (1999).

Saat itu, warga NU diminta mempertimbangkan hubungan historis NU dengan partai yang difasilitasi oleh PBNU. Meski tidak menyebut nama parpol tertentu, orang sudah paham bahwa partai yang dimaksud adalah PKB.

Klaim lebih tegas bahkan disampaikan sejumlah pengurus PBNU, PWNU, dan PCNU di seluruh Indonesia, dengan menyatakan PKB sebagai saluran politik satu-satunya bagi warga NU.

Gus Dur pun selalu menyatakan, PKB didirikan oleh para pengurus PBNU, sehingga partai-partai Islam berbasis massa NU lainnya direkomendasi sebagai tidak sah. Ketika itu, selain PKB, sejumlah kiai ternama yang pernah dekat dengan Gus Dur (KH Jusuf Hasyim dan KH Asnawi Latief) juga mendirikan partai tandingan. Sebut saja Partai Nahdlatul Ummat, Persyarikatan Daulatul Ummah, dan sebagainya.

Di luar itu, beberapa kiai serta ribuan santri dan umat lainnya masih bertahan di PPP. Bahkan, rivalitas antara PKB dan PPP di berbagai daerah berlangsung ketat, dan terkadang disertai bentrok fisik yang memakan korban jiwa. Tragedi di Desa Dongos, Kecamatan Pecangaan, Jepara, muncul karena kegagalan tokoh kedua partai dalam mengelola massa NU.

Proyeksi LPP-PKB

Tetapi sebagai target, kita tidak bisa menyalahkan Gus Dur. Sebagaimana diungkap Ketua LPP PKB Khofifah Indar Parawansa, perolehan 56 persen suara itu merupakan target maksimal.

Kendati demikian, berdasarkan proyeksi LPP PKB se-Indonesia, jumlah suara yang bisa diraih PKB dalam pemilu mendatang adalah 23,4 persen. Itu pun jika syarat konsolidasi yang baik maka dapat terpenuhi. ''Jika konsolidasi tak berlangsung mulus, perolehan suara PKB maksimal akan sama dengan Pemilu 1999, yaitu 12,6 persen,'' kata Khofifah.

Salah satu upaya untuk melakukan konsolidasi adalah mengharap taushiyah (rekomendasi) dari PBNU agar warga nahdliyyin menyalurkan aspirasinya ke PKB dalam pemilu legislatif, kemudian mendukung capres yang diajukan PKB dalam pemilihan presiden mendatang.

Taushiyah seperti ini tidak melanggar hak berpolitik warganegara, karena sifatnya sebatas rekomendasi. Hal serupa bahkan sudah dilakukan PP Muhammadiyah untuk pemilihan presiden, di mana warga ormas itu diimbau mendukung Amien Rais.

Tetapi, melihat keretakan hubungan antara Hasyim Muzadi dan Gus Dur, nampaknya sulit mengharap munculnya taushiyah dari PBNU. Untuk menyiasatinya, PWNU Jatim tetap menggunakan ''bahasa'' hasil Muktamar Ke-30 NU di Lirboyo (1999).

Namun, sebagaimana pengalaman pada pemilu lalu, imbauan seperti itu juga tidak mempan.

Sebagai pengagum Gus Dur, dan tertarik dengan visi Islam inklusif yang diusung PKB, saya tetap berharap target itu bisa tercapai. (Dudung Abdul Muslim-48)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA