
| Senin, 23 Februari 2004 | Olahraga |
Chrisjon Ingin Buktikan Bukan Jago KandangSEMARANG- Christian John siap tanding di mana saja, termasuk rencana tanding melawan Osamu Sato, Mei mendatang di Jepang. Bertanding di luar negeri, merupakan kebanggaan tersendiri kalau bisa mempertahankan gelar. Kalau itu berhasil dibuktikan, dirinya bukan lagi sebagai jago kandang di kelas bulu (57,1 kg) WBA. Memang demikian, perjalanan Chrisjon - panggilan ring Christian John, sejak turun sebagai petinju profesional, sampai merebut gelar juara versi Badan Tinju Dunia (WBA), semuanya berlangsung di Indoensia. "Main di mana pun saya siap, tidak perlu pilih-pilih tempat. Sejak dulu saya selalu berharap bisa tampil di luar negeri. Karena itu kalau berhasil bisa menjadi prestasi tersendiri bagi saya," tutur Chrisjon, sepulang dari gereja, petang kemarin. Saat ini, petinju yang bernaung di Sasana Tugu Muda Bank Buana ini, mempunyai rekor bertanding 33 kali, 19 kali di antaranya menang KO, sisanya menang angka, dan belum pernah kalah dan seri. Juara dunia itu direbut, setelah menang angka atas Oscar Leon dari Kolombia, di Nusa Dua Bali beberapa waktu lalu. "Akan saya buktikan di Jepang nanti, saya bukan jago kandang lagi," tegas dia. Sebenarnya dia siap tampil di mana pun. Sebab yang menentukan tempat bukan dirinya, melainkan promotor, yaitu Daniel Bahari. Kekuatan Osamu Sato, calon lawannya yang berada di peringkat lima WBA, belum pernah diketahuinya. "Saya belum pernah melihatnya, baik secara langsung maupun lewat kaset rekaman. Karena itu, saat ini promotor (Daniel Bahari-Red.) sedang mengusahakan kasetnya, untuk kami pelajari." Alasan Sponsor Seperti diberitakan sebelumnya, petinju kelahiran Banjarnegara ini akan dihadapkan dengan Jose Cheo Rojas asal Venezuela. Rencana ini mengalami penundaan, dari akhir Februari, ditunda hingga 4 Maret. Tempatnya juga sudah ditetapkan di Sport Mall Kelapa Gading Jakarta. Namun menjelang hari H, promotor dengan alasan kesulitan mencari sponsor membatalkan pertandingan. Hal itu tidak membuat putus asa, dia justru menanggapi sebaliknya. Kesempatan yang agak panjang tersebut digunakan untuk mempersiapkan diri secara lebih baik. Dia tetap yakin, rencana main di Jepang tidak akan ditunda lagi. Sebab mencari sponsor di Jepang lebih mudah, daripada di Indonesia. "Memang ada sedikit kecewa. Sebab persiapannya sudah matang, tetapi dibatalkan. Kalau alasannya sponsor, kami harus mau mengerti dan harus kami terima adanya. Saya berkeyakinan di Jepang nanti tidak mengalami penundaan." Pembatalan itu tidak mengendurkan semangatnya untuk berlatih. Setiap hari dia selalu berlatih dua kali, pagi tiga jam, sore dua jam. (C16-57i) |