logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 23 Februari 2004 Berita Utama  
Line

Politik Uang Sulit Dicegah

JAKARTA-Adanya politik uang dalam pemilu sepertinya sulit dicegah karena keberadaannya sulit dibuktikan. Karena itu, harapan terselenggaranya pemilu yang bersih tak hanya bergantung pada integritas para politikus, tetapi juga peran dan komitmen masyarakat untuk menolak politik uang.

Hal itu diungkapkan pengamat politik UI Prof Maswadi Rauf dan mantan Sekjen PBNU Ahmad Bagdja di Jakarta, Minggu (22/2), menanggapi gencarnya upaya para politikus mendekati para ulama menghadapi Pemilu 2004. ''Politik uang ini memang sulit dicegah karena uang memang tidak berbunyi. Artinya, baik yang memberi maupun menerima tidak bakal bicara dan tidak bisa dibuktikan bahwa mereka memberi atau menerima uang,'' kata Maswadi.

Karena itu, kata dia, pencegahan politik uang bergantung pada integritas dan moral masing-masing. Di sini peran para ulama dan tokoh masyarakat untuk mengajak masyarakat menolak atau tidak terpengaruh oleh bujuk rayu para politikus yang menggunakan uang untuk meraih posisi yang diinginkannya.

Ditanya banyaknya politikus yang berkunjung ke ulama dan pesantren belakangan ini, Bagdja mengaku sangat khawatir terhadap politik uang. ''Sebab, politik uang sepertinya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di masyarakat. Jangankan dalam pemilu, dalam pemilihan bupati dan gubernur pun permainan uang ini terlihat,'' katanya.

Karena itu, dia sepakat dengan Maswadi bahwa tokoh-tokoh masyarakat-terutama para ulama-diharapkan membentengi masyarakat dan pengikutnya dari hal seperti itu. Meskipun demikian, Bagdja menilai, banyaknya politikus yang berkunjung ke para kiai dan pesantren belakangan ini sebagai hal yang wajar, dan itu biasa terjadi setiap menghadapi pemilu. Pasalnya, kiai dan ulama adalah salah satu dari kelompok masyarakat yang mempunyai banyak pengikut dan dinilai punya pengaruh untuk mengarahkan para santrinya.

''Parpol kan ibarat kendaraan. Sekarang banyak kendaraan yang tidak mempunyai penumpang, sedangkan ulama seperti penumpang yang tidak mempunyai kendaraan. Jadi, wajar kalau parpol berlomba-lomba mendatangi para ulama untuk mencari pendukung guna menyukseskan pencalonan mereka. Ini sebuah proses yang wajar dalam dinamika politik,'' tambahnya.

Menghadapi kecenderungan seperti itu, kata dia, NU tidak mempunyai langkah khusus dalam mengarahkan para pengikutnya. Bagaimana menyikapi hal seperti itu? Sebab, nahdliyin dinilai cukup dewasa untuk menentukan pilihan mereka.

Hal senada juga dikemukakan Maswadi. Guru besar Fisip UI itu yakin, meskipun banyak tokoh parpol mendatangi mereka, partai atau tokoh mana yang akan mereka pilih sangat bergantung pada pilihan pribadi masing-masing. Hal seperti itu tidak hanya terjadi di lingkungan NU, tetapi juga Muhammadiyah. Banyak kader organisasi keagamaan itu tersebar di berbagai parpol. (A20-69e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA