logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 23 Februari 2004 Berita Utama  
Line

Derita Korban DB di Jateng (1)

Tak Punya Biaya, Anak Dibiarkan Sakit

BERCANDA: Suryani (25), warga Brabo, Kecamatan Tanggungharjo sembari menggendong anaknya bercanda dengan tetangganya. Bulan lalu, anaknya meninggal dunia lantaran terkena demam berdarah. (43n) - SM/Aris M

NYAMUK, bagi sebagian warga Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan akhir-akhir ini menjadi masalah tersendiri. Bila petang tiba, nyamuk mulai beterbangan. Jumlahnya tidak seperti biasanya. Banyak dan mengganggu.

''Kalau musim hujan, di sini nyamuknya banyak, tapi bukan nyamuk demam berdarah yang membahayakan itu,'' kata Muryani (50), warga Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari sembari menyalakan obat antinyamuk bakar.

Meski di desa tersebut dikabarkan ada seorang bocah yang meninggal dunia lantaran terkena DB, Muryani menanggapi biasa-biasa saja.

Meninggalnya seorang anak yang terkena DB dianggap seperti anak-anak yang meninggal karena penyakit lainnya sehingga warga tidak begitu memberikan perhatian khusus terhadap DB tersebut.

''Memang bulan lalu warga sini ada yang meninggal karena DB, tapi saya dengar sekarang tidak ada yang terkena DB lagi,'' katanya.

Sementara itu, Ngasilah (37), kader PSN Desa Dapurno mengatakan, di desanya, orang yang terkena demam berdarah tidaklah banyak. Bahkan bulan ini tidak ditemukan data adanya warga yang terkena demam berdarah.

Susahnya, upaya sosialisasi sanitasi dan kesehatan terkendala oleh rendahnya pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap masalah tersebut. Selain itu, banyak warga enggan membawa anaknya ke bidan, puskesmas, atau rumah sakit karena takut biayanya mahal.

Pernah ada anak terkena DB yang meninggal lantaran orang tuanya tidak mau memeriksakan ke rumah sakit. Anak dibiarkan sakit hingga akhirnya meninggal.

''Orang tua anak yang meninggal karena DB itu, sebenarnya sudah dianjurkan oleh bidan setempat untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Namun anak itu tidak segera dibawa ke rumah sakit hingga meninggal dunia,'' katanya.

Kasus itu menimpa ibu muda (18) yang enggan disebutkan namanya. Anaknya yang berusia 3 tahun meninggal karena dia tidak mampu memeriksakannya ke rumah sakit, apalagi ke dokter. Selain itu, juga ada faktor lain, yakni pendidikan dan kesiapan dalam berumah tangga.

''Saat diberitahu untuk membawa anaknya ke rumah sakit, dia banyak pertimbangan, mengingat suaminya bekerja di Jakarta. Kendati sudah dibujuk, toh akhirnya tak juga mau memeriksakan anaknya,'' tuturnya. Kecenderungan yang dialami ibu muda dari Dapurno tersebut dimungkinkan juga terjadi pada beberapa warga yang anaknya meninggal dunia lantaran terkena DB.

Karena tidak mampu membiayai perawatan, akhirnya mereka harus berpikir berulang-ulang sebelum membawa anaknya ke rumah sakit.

Sabtu Bersih

Dapurno, desa yang luasnya mencapai 386.000 ha, jumlah penduduknya berdasar data BPS Grobogan 2002 sekitar 4.206 orang. Sebagian besar bermata pencaharian sebagai buruh tani dan petani.

Meski jauh dari Kota Purwodadi, kecamatan tersebut cukup ramai karena terletak di pinggir jalan utama Purwodadi-Blora.

Jika dilihat dari lokasinya, desa itu terletak di dekat Sungai Lusi dan sebagian warganya tinggal di dekat kebun serta selokan. Tampaknya hal itu cukup kondusif bagi perkembangan nyamuk, tak menutup kemungkinan nyamuk demam berdarah.

Sadar akan bahaya tersebut, Kecamatan Wirosari menggalakkan program Sabtu Bersih. Selain itu, setiap rumah diberi kartu pemantauan jentik. ''Setiap Minggu, petugas puskesmas bersama tim PKK akan mengecek kartu tersebut,'' kata Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Wirosari, Murdesi SIP.

Camat Wirosari, Drs Andung Sutiyoso MM me-ngatakan, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk menghilangkan demam berdarah melalui berbagai sosialisasi, baik di masyarakat maupun sekolah-sekolah. ''Yang penting sudah ikhtiar,'' katanya.

Lain lagi Ngasilah yang mengeluhkan dana operasional untuk kader PSN yang dirasa masih sangat minim. Pada Januari lalu, dirinya menerima uang Rp 100.000. Uang tersebut kemudian dibagikannya kepada seluruh kader PSN di desa tersebut yang jumlahnya 20 orang. ''Setiap kader hanya mendapat Rp 5.000. Itu minim sekali, untuk operasional satu bulan jelas kurang,'' katanya.

Dengan dana sebesar itu, setiap kader harus bekerja keras untuk memantau jentik-jentik dan memberikan penyuluhan kepada warga sekitar. ''Kader PSN itu berasal dari 10 posyandu di desa ini. Setiap Posyandu jumlah kadernya dua orang,'' ujarnya.

Begitu juga dengan Desa Brabo, Kecamatan Tanggungharjo. Di desa tersebut, berbagai upaya untuk membasmi nyamuk demam berdarah sudah dilakukan kader-kader PSN. ''Ya, namanya di desa, walaupun sudah diberi penyuluhan masih seperti itu,'' kata Ketua Tim Penggerak PKK Desa Brabo, Nuryati, kemarin. Istri Kepala Desa Brabo itu mengatakan, ada warga desa itu yang meninggal dunia pada Januari lalu lantaran terkena DB.

Sementara itu, Suryani (25), warga Brabo, Kecamatan Tanggungharjo, orang tua Ali Maksum (4,5) yang meninggal dunia lantaran terkena DB mengatakan, kejadian itu membuat dirinya sedih. Betapa tidak, setelah anaknya diperiksakan ke bidan, setelah pulang meninggal dunia.

''Pagi itu keadaan tubuhnya membaik, bahkan dia sempat membeli susu segala. Namun sore harinya tubuhnya berubah menjadi dingin seperti es dan akhirnya meninggal,'' tuturnya. (Aris Mulyawan-33n)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA