
| Senin, 23 Februari 2004 | Berita Utama |
Mbak Tutut Menanam Simpati
SEMARANG- Kandidat presiden Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut yang bakal dijagokan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) menemui sejumlah kiai di Jateng, Sabtu (21/2). Pertemuan tertutup bagi wartawan itu berlangsung di Hotel Graha Santika, Jalan Pandanaran. Tutut bertemu dengan enam kiai dari Kudus, Jepara, dan Demak. Putri sulung mantan Presiden Soeharto itu dikabarkan meminta doa restu kepada para kiai untuk maju sebagai calon presiden. Pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit itu juga membahas persoalan-persoalan sosial. Adanya pertemuan dengan para kiai itu diungkapkan oleh KH Machmudi Aman, pengasuh Ponpes Rohmatul Umah Jekulo, Kudus, seusai mengikuti pertemuan. Dia mengaku baru saja bertemu Mbak Tutut bersama lima kiai lain. ''Pada intinya Mbak Tutut minta doa restu untuk maju sebagai capres dalam pemilu mendatang,'' ungkapnya didampingi KH Abdul Jamil Sarwi Lc, pengasuh Pondok Pesantren Al Haromain Jepara. KH Machmudi mengatakan, alasan Tutut untuk maju sebagai capres yaitu ingin ikut memikirkan bangsa yang sampai kini masih terpuruk. Sebagai ulama, dia akan memberikan restu kepada yang ingin memikirkan bangsa dan negara. Karena itu, dalam pertemuan tersebut, dia bersama kiai lain meminta supaya Tutut segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Sosialisasi itu bisa ditempuh dengan silaturahmi ke pesantren di daerah-daerah. Menyangkut program-program yang akan ditawarkan, dia menyatakan, bersedia membantu. ''Mbak Tutut juga menyatakan kesanggupannya (untuk sosialisasi ke pesantren-Red),'' tuturnya. Dia menyebutkan, dirinya memberikan dukungan kepada putri mantan penguasa masa Orde Baru itu lantaran jiwa sosial Mbak Tutut yang tinggi. Dia mengatakan, Tutut dekat dengan rakyat kecil. ''Jiwa sosialnya sejak dulu juga tinggi. Dia sering membantu yayasan panti asuhan dan yayasan-yayasan sosial lain. Dengan kalangan pondok pesantren dia juga cukup dekat,'' ujarnya. Dia menambahkan, Tutut sebagai manusia biasa memiliki banyak kelebihan dan kekurangan. ''Itu wajar. Namun, nyatanya dia baik kok,'' ujarnya. Usai pertemuan itu Tutut segera meluncur ke Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang untuk memberikan beasiswa dan bantuan kepada petani dan nelayan. ''Reuni'' Orde Baru Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut sehari penuh berada di Semarang, Sabtu lalu. Selain bertemu para kiai pada pagi hari, dia juga menggelar kegiatan yang sering dilakukan pada masa Pemerintahan Soeharto, ayahnya, sore harinya. Kegiatan itu berlangsung di Dusun Rowoganjar, Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Tutut didampingi suaminya, Indra Rukmana. Namun tak terlihat Ketua Umum Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) R Hartono. Begitu turun dari mobil, ia disambut ibu-ibu yang ingin bersalaman. Senyumnya selalu mengembang dan menengok kepada orang-orang yang menyapanya. Tutut melakukan ramah tamah, memberikan bantuan kepada petani serta beasiswa kepada sejumlah pelajar. Dialog itu berlangsung di pendapa kantor desa setempat. Setelah berbincang-bincang ringan dan memberikan pidato singkat, ia segera menuju ke Dusun Rowoganjar. Tutut yang mengenakan baju muslimah motif hijau kembang-kembang, dipadu kerudung hijau polos itu terjun ke sawah. Dia menanam padi bersama ibu-ibu petani yang semuanya mengenakan caping hijau. Selanjutnya, putri sulung mantan Presiden Soeharto itu menggelar ''kelompencapir'', kegiatan ''wajib'' temu petani dan nelayan pada era Orde Baru. Dia juga berdialog dengan petani di samping Masjid Roudlotut Muttaqien. Tak hanya petani dan nelayan, penyandang cacat juga hadir dalam pertemuan yang berlangsung di bawah gerimis itu. Beberapa yayasan sosial lain juga meminta bantuan kepada Tutut. Kompensasinya, kata seorang penanya, dia sanggup memberikan suara seluruh anggota kepada partai Tutut (PKPB). Kesempatan itu dimanfaatkan Tutut untuk mengenang kembali soal ayahnya. ''Ayah saya dulu juga petani, jadi pertanian tidak asing bagi saya.'' Di antara masyarakat yang hadir, terlihat pula artis sinetron Farida ''Mak Lampir'' Pasha. Kampanye Terselubung Dalam acara itu orang-orang mengenakan atribut PKPB. Banyak juga dijumpai orang mengenakan kaus dan pin bergambar Tutut serta lambang partainya. Nomor partai PKPB sebagai kontestan pemilu juga terpasang di dekorasi. Kendati tak mencolok, angka tersebut menjadi perhatian para wartawan. Namun, ia enggan disebut melakukan kampanye terselubung terkait dengan partainya serta pencalonannya sebagai presiden. ''Ya enggaklah, sekarang sedang banyak bencana alam, kami ingin membantu keadaan petani. Sebelum kena bencana kami ingin bantu mereka sehingga juga bisa membantu pemerintah,'' kata dia sebelum meninggalkan lokasi. Penentuan lokasi di Dusun Banyubiru yang dimungkinkan sebagai basis PKPB, lagi-lagi disanggah oleh Tutut. ''Kebetulan saja Banyubiru, setelah kami dari Jawa Timur. Besok kami bisa ke daerah-daerah lain,'' ujar dia. Mengapa baru mendekati pemilu dia berkunjung ke desa-desa? Dengan diplomatis itu menjawab, ''Dulu kebetulan ayah saya sakit dan saya harus mengurus. Syukur sekarang sudah sehat jasmaninya.'' Tidak ingin menarik simpati? ''Semua orang pasti ingin menarik simpati. Soal capres itu terserah Tuhan. Kalau Dia menghendaki semua akan terjadi.'' (G1-69e,78i) | |||||