logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 23 Februari 2004 Berita Utama  
Line

Turun Gunung

''SEMESTINYA saya sudah istirahat, mengurus cucu di rumah. Sudah tua, sehingga lebih baik mandhita. Namun hati saya terusik melihat kondisi bangsa ini yang semakin parah. Karena itu, terpaksa saya 'turun gunung', untuk terlibat lagi dalam pembangunan bangsa ini.''

Begitulah kata Wiryono Sastrohandoyo, mantan Dubes RI untuk Austria. Dia yang juga pernah menjadi Dubes PBB dan Dubes di Australia itu sudah pensiun sejak 2002. Dia kemudian memutuskan mundur dari percaturan politik.

Meskipun begitu, ternyata tenaganya masih diperlukan. ''Saya sebenarnya memilih aktif menjadi pemikir di CSIS, meski sesekali masih dipanggil untuk menangani berbagai persoalan bersama Pak Ali Alatas, menjadi juru runding persoalan Aceh,'' kata dia, kemarin.

Wiryono ''turun gunung'' dan kembali terjun di bidang politik karena dia sedih dan prihatin terhadap kondisi bangsa ini yang semakin tidak menentu. Bangsa ini, lanjut dia, semakin tidak memiliki competitiveness, kecuali di bidang korupsi.

''Bisa dibayangkan, SDM kita termasuk terendah di dunia. Namun kita jago di bidang korupsi. Sebab KKN sudah menjadi budaya di semua lini. Kalau masalah itu sudah menjadi sistem, susah bagi bangsa ini untuk bangkit mengejar kemajuan,'' kata dia.

Contoh paling gampang adalah pengadaan kotak suara. Barang sepele seperti itu saja, kita mengimpor dari negara lain. ''Apa memang sedemikian susah membuat kotak suara, sehingga itu harus diimpor,'' jelas dia.

Karena itu, Wiryono memutuskan bergabung ke Partai Indonesia Baru (PIB) pimpinan Sjahrir. Dia pun duduk di urutan caleg nomor 1 Daerah Pilihan Jateng V (Solo, Boyolali, Sukoharjo, dan Klaten). Dia merasa lewat kancah politik itu bisa berbuat banyak memperbaiki kondisi negeri ini.

''Sayang, banyak orang berpendidikan memilih menjadi pengamat. Akibatnya, yang terjun ke politik praktis orang yang ijazahnya palsu. Efek lainnya, bangsa ini semakin kosong mental, kosong iman, bahkan banyak yang omong kosong.''

Kalau saja para orang pintar negeri ini masuk ke kancah politik, sebagai lembaga law maker (pembuat Undang-undang), tatanan negeri ini pun akan terbangun baik. Pada gilirannya, pelaksanaan tatanan itu diharapkan juga semakin baik. (Joko Dwi H-69i).


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA