logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 23 Februari 2004 Berita Utama  
Line

Tiga Capres Kunjungi Sinuhun

  • Mohon Doa Restu

SOLO-Dalam waktu bersamaan, Sinuhun Paku Buwono XII dikunjungi tiga calon presiden sekaligus, yakni Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Akbar Tandjung, dan Wiranto. Ketiga tokoh itu sama-sama berkunjung ke Keraton Surakarta Hadiningrat pada pergantian malam 1 Sura Sabtu malam lalu.

Praktis kehadiran ketiganya menarik perhatian khalayak. Kemenarikan itu karena terkait pencalonan mereka sebagai Presiden RI dalam pemilu mendatang. Orang pun kemudian bertanya-tanya. Adakah hubungan kedatangan ketiganya ke Keraton dengan pencalonan mereka?

Tidak ada yang tahu pasti. Hanya, Akbar Tandjung dan Wiranto seusai acara resmi memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan tentang apa saja yang mereka perbincangkan dengan Sinuhun Paku Buwono XII. Akbar mengatakan, kedatangannya ke Keraton, pertama-pertama untuk melihat kondisi Sinuhun yang dia dengar kakinya sakit karena terjatuh. ''Saya ingin mengetahui kondisi dia sehabis jatuh itu,'' tandasnya.

Lalu, adakah hal lain yang dia bicarakan dengan penguasa Keraton tersebut? Kalau seputar pencalonan presiden, Akbar mengaku tidak ada pembicaraan sama sekali. Hanya, pada malam itu dia memohon restu kepada Sinuhun, selepas mendapatkan kasasi dari Mahkamah Agung.

Restu untuk mencalonkan presiden? Ketua DPR RI itu hanya berujar, restu untuk melaksanakan tugas-tugasnya, baik sebagai pemimpin DPR RI maupun pemimpin parpol.

Kecele

Sementara itu, Wiranto mengatakan, kedatangannya ke Keraton tak lebih merupakan silaturahmi sebagai salah seorang kerabat Keraton.

''Saya kan sudah dianggap sebagai kerabat di Keraton sini. Jadi, apa salahnya kalau saya kemudian datang ketika ada acara seperti ini?'' tandas dia, yang pada malam itu mengenakan busana kejawen lengkap, sama seperti Akbar Tandjung dan Gus Dur.

Ketika ditanya adakah pembicaraan khusus dengan Sinuhun, dia menjawab tidak ada. Dia menyebutkan, selain memohon doa restu kepada Sinuhun pembicaraan lain hanya beramah tamah. ''Ya, misalnya menanyakan kondisi saya sekarang atau sebaliknya saya menanyakan kabar beliau,'' tuturnya.

Lantas bagaimana dengan Gus Dur? Ketika konsentrasi sejumlah wartawan tengah tertuju kepada Akbar, ternyata Gus Dur lebih dahulu pulang. Kepulangannya pun tidak diketahui wartawan karena dia pulang melalui pintu belakang.

''Wah telat, Gus Dur telanjur pulang lewat pintu belakang,'' ujar salah seorang panitia. Para wartawan pun kecele.

Adakan Pertemuan

Namun, seusai menghadiri acara ritual prosesi kirab 1 Sura di Keraton Surakarta Hadiningrat, dini hari kemarin, Akbar dan Gus Dur mengadakan pertemuan di Restoran Roemahku di Laweyan, Solo. Sayang, baik Akbar maupun Gus Dur menolak membeberkan hasil pertemuan seperempat jam lebih tersebut.

Ketika ditemui sejumlah wartawan, Akbar menegaskan, tidak ada pembicaraan politik ketika dirinya bertemu Gus Dur.

''Gus Dur mampir ke sini karena tertarik ditawari mi oleh istri saya. Saya juga tanyakan kapan saya bisa ke Ciganjur lagi.

Itu saja,'' kata Ketua DPR RI tersebut.

Hal itu senada dengan apa yang dikemukakan Gus Dur. Dia mengatakan, kedatangannya di restoran milik Akbar Tandjung itu hanya untuk makan dan ngobrol. Di luar itu tidak ada, apalagi sampai membicarakan deal politik. ''Ya cuma guyon-guyon. Sama de-ngan ketika ketemu Pak Wir (Wiranto-red), guyon saja,'' ujarnya.

Pada bagian lain, Gus Dur yang ditetapkan sebagai calon presiden oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengaku telah mengan-tongi kriteria calon wakil presiden yang akan mendampingnya kelak bila menang dalam Pemilu 2004.

Saat ditanya siapa orang yang akan dikehendaki mendampinginya dalam pemilihan presiden mendatang, Gus Dur mengelak dengan dalih menunggu pemilu legislatif dilaksanakan.

"Lha wong pemilu legislatif saja belum jalan kok sudah ribut mengenai wakil presiden. Nantilah setelah selesai pemilu, saya akan dipanggil untuk melakukan mukernas menetapkan kriteria wakil presiden. Itu baru kriteria, bukan orang. Kalau menyebut nama orang, ya nanti jika tinggal seminggu sebelum pemilihan presiden. Saya akan ajak atau diundang kembali. Penetapan kriteria di mukernas," ujarnya.

Ditanya apakah secara pribadi dia sudah mengantongi nama-nama orang sebagai cawapresnya, Gus Dur mengelak menjawab. Namun, soal kriteria cawapres, Gus Dur mengaku sudah mempunyai. "Ya sudah ada, tapi secara pribadi. Lha ini organisasi atau pasar. Mukernas nanti yang menentukan. Kriteria itu akan dibahas di mukernas," katanya.

Bisa Saja Terjadi

Di tempat terpisah, meski secara tegas tidak mengatakan bersedia, terkait dengan wacana dirinya mendampingi Megawati Soekarnoputri dalam pencalonan presiden pada pemilu mendatang, Akbar mengatakan, wacana seperti itu bisa saja terjadi.

''Ya kalau wacana sih bisa saja. Sebab, dalam politik berbagai kemungkinan bisa terjadi. Namun, realisasinya bergantung pada dua hal. Pertama, hasil konvensi Partai Golkar dan perolehan suara Partai Golkar pada pemilu 5 April mendatang," tegas Akbar saat dicegat sejumlah wartawan sebelum meninggalkan Keraton Surakarta.

Dia mengatakan, perolehan suara partainya nanti akan sangat menentukan untuk membangun suatu koalisi. Dia mengakui, Golkar memiliki banyak kesamaan dengan PDI-P. ''Yang jelas, kini Partai Golkar sedang memikirkan siapa yang akan menjadi wakil partai secara resmi lewat konvensi. Nanti capres resmi Partai Golkar harus siap diposisikan sebagai calon wakil presiden. Sebab, jauh sebelum konvensi, dalam rapim keenam sudah ada kesepakatan soal itu.

Ditanya siapkah dia diposisikan seperti itu jika memenangi konvensi, dia menjawab, Partai Golkar akan melihat dari kepentingan bangsa dan negara ke depan.

''Namun, perlu saya tegaskan sekali lagi, semua itu akan ditentukan dari hasil pemilu nanti. Partai Golkar bertekad meningkatkan perolehan suara yang besar pada pemilu mendatang.'' imbuhnya.

Meskipun demikian, dia mengakui PDI-P sebagai pemenang Pemilu 1999 memiliki peluang menjadi pemenang pada pemilu mendatang. Kemungkinan itu dia contohkan bagaimana dukungan yang sangat besar mengalir ketika partai tersebut menggelar jalan sehat di Solo beberapa waktu lalu.

Rencana Koalisi

Pada kesempatan terpisah, di Wonogiri, Ketua Umum Partai Golkar itu menjelaskan rencana koalisi pemilihan presiden. Dia mengaku sudah melakukan pendekatan awal kepada tokoh-tokoh nasional. ''Saya sudah ngomong kepada Megawati, juga sudah bilang kepada Gus Dur,'' ujarnya, Minggu (22/2).

Koalisi terkait dengan rencana pemilihan presiden mendatang, kata dia, tidak dapat dihindari. Karena itu, sebagai langkah awal merintis kemungkinan terjalin koalisi, pihaknya telah menjalin hubungan dengan Megawati dan Gus Dur. ''Tadi malam saya bertemu Gus Dur di Keraton Surakarta. Bahkan, dia mampir ke rumah saya,'' katanya. Dia menjelaskan, koalisi memungkinkan dilaksanakan antartokoh parpol ketika partainya memiliki kesamaan politik. ''Sama atau tidak misi dan visi politiknya. Itu yang penting,'' ujarnya.

Menjawab pertanyaan wartawan, Akbar menyatakan, pada Pemilu 2004 akan terjadi persaingan ketat partai-partai dalam merebut simpati massa pemilih. Meski demikian, pihaknya berharap, walau antarparpol akan kompetitif, secara prinsip rakyatlah yang akan menentukan pilihan. Partai boleh bersaing dengan mengedepankan pentingnya ketertiban, terlebih dalam masa kampanye nanti. Dalam tahapan kampanye nanti memang rawan terjadi gesekan. Untuk menghindari hal itu, semua pihak harus senantiasa taat kepada aturan perundang-undangan. ''Jangan sampai ada gangguan kepada partai yang sedang berkampanye agar tidak terjadi gesekan antarmassa parpol. Partai Golkar tak pernah menginstruksikan untuk menganggu partai lain. Sebaliknya, jangan ada partai lain yang berniat mengganggu Golkar,'' tegasnya.(G19,P27-64,86e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA