
| Senin, 23 Februari 2004 | Karangan Khas |
Perpustakaan Basis PembelajaranOleh: Abdul Rohman MEMASUKI tahun 2004, institusi pendidikan formal sedang mempersiapkan diri untuk menerapkan kurikulum baru yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum ini menuntut persiapan materiil dan moril yang mapan. Yakni, sarana dan prasarana sebagai tempat belajar mengajar perlu disiapkan secara representatif. Idealisme guru terus-menerus dipacu agar tak terputus daya kreativitasnya. Kepemimpinan kepala sekolah perlu diterapkan secara arif bijaksana. Dan, yang tak kalah penting adalah sarana perpustakaan sekolah yang memadai. Tulisan ini tidak bermaksud membahas kurikulum KBK, tetapi sarana yang menunjang pelaksanaan KBK, khususnya sarana perpustakaan sekolah. Sarana ini, menurut penulis, merupakan salah satu modal terpenting yang bukan saja untuk pemberlakuan KBK, melainkan juga bagi pemberlakuan kurikulum macam apa pun. Baik pada institusi pendidikan formal, informal maupun nonformal. Dalam rangka mengembangkan daya kognisi, afeksi, dan psikomotorik peserta didik dari strata mana pun, basis perpustakaan dapat menjadi alternatif. Dalam hal ini, yang paling diutamakan adalah bagaimana memotivasi peserta didik menjadi orang yang gemar membaca. Perpustakaan, yakni sebagai salah satu prasarana sekolah hendaklah dilengkapi dengan literatur yang menunjang terpenuhinya target kurikulum. Para siswa diberi kebebasan untuk memanfaatkan semua literatur yang tersedia. Pegawai perpustakaan perlu tampil bersahabat dan santun dalam pelayanan. Juga, dilengkapi ruang baca dan ruang diskusi yang asri dan menyenangkan. Kebiasaan Masyarakat Model pembelajaran dengan memprioritaskan perpustakaan sebagai basis, kiranya akan menjadi salah satu alternatif untuk mengubah kultur masyarakat Indonesia yang suka wicara (bicara = istilah Jawa ngobrol) kemudian langsung melompat ke tingkat pirsa (nonton), tanpa melalui proses baca terlebih dahulu. Akibat tradisi ini menjadikan masyarakat Indonesia pada umumnya rendah tingkat kepedulian terhadap membaca (buku, pamflet, majalah, internet, laporan, manuskrip, lembaran musik, dan berbagai macam media yang memberikan informasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan). Jarang ditemukan orang-orang sedang membaca di ruang-ruang tunggu, seperti terminal, halte, pinggir jalan, bahkan di di lingkungan kampus sekalipun. Kegiatan mereka kebanyakan adalah ngobrol. Dalam upaya mewujudkan perpustakaan sebagai basic sekolah, hendaklah dimunculkan paradigma baru. Yakni dengan mengubah sistem pembelajaran yang sedang berlangsung, yang masih menganut model klasik. Seperti metode mengajar yang hanya mengantarkan dan mentransfer pengetahuan, sehingga hanya orang yang berpengetahuan luas yang dapat mengantarkan pengetahuan itu. Menurut Friedrich Schneider, model klasik itu harus sudah diubah. Sebab mengajar bukan hanya mengantarkan pengetahuan pada siswa, tetapi juga mengembangkan bakat siswa, membentuk kemampuan untuk mengerti, menilai dan menyimpulkan, juga memberikan bahan pengajaran yang dapat membantu siswa untuk mengembangkan fantasi, empati, serta hasrat-hasratnya (Sindhunata, 2000). Dalam mengantisipasi proses pembelajaran yang komprehensif itulah, keberadaan lembaga perpustakaan di tengah lembaga pendidikan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Kesiapan Proses model pembelajaran berbasis perpustakaan ini memerlukan kesiapan yang menyeluruh. Termasuk ketersediaan buku-buku yang dibutuhkan dan memenuhi jumlah siswa. Dalam model ini, transfer ilmu pengetahuan yang terjadi dalam kelas tidak berjalan secara monolog, tetapi lebih bersifat dialog. Dalam proses pembelajaran, guru tidak saja mendikte siswa, tetapi lebih menitikberatkan pada pemberian motivasi dan pengarahan. Guru sebagai fasilitator dan pemberi inspirasi, sedangkan siswa didorong untuk maju dan menguasai ilmu yang disukai. Hal ini dapat dicontohkan dari model pembelajaran dengan sistem activity learning (AL) yang telah diterapkan oleh lembaga pendidikan Sekolah Menengah Umum (SMU) Muthahhari, Bandung. Dalam model activity learning itu, setiap mata pelajaran didukung dengan bahan-bahan yang ada di perpustakaan. Setiap guru saat menerangkan pelajaran, senantiasa merujuk sekaligus mengembangkan melalui perpustakaan. Dengan demikian tidak ada mata pelajaran yang tidak dikembalikan ke perpustakaan. Hasilnya, sekolah yang berdiri pada tahun 1992 dan mulai meluluskan siswanya pada 1995 ini, alumninya banyak diterima di perguruan tinggi negeri melalui ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN). Bahkan, juga diterima di perguruan tinggi luar negeri seperti Jerman, Inggris, Malaysia, Yordania, dan Iran. Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam rangka implementasi pembelajaran berbasis perpustakaan. Pertama, proses pembelajaran. Suatu pembelajaran akan berjalan baik apabila seluruh komponennya memiliki kemampuan yang berkualitas, juga metode pengajaran yang efektif dan efisien -sarana belajar yang mendukung dan sarana perpustakaan yang lengkap. Kedua, kepemimpinan kepala sekolah. Suatu lembaga sekolah yang dihuni sekian banyak orang, tidak akan dapat berjalan dengan baik apabila tidak ada koordinator atau kepala yang memimpin lembaga itu. Kepala sekolah hendaklah mampu membangkitkan semangat bawahan, agar secara terus-menerus memiliki semangat dan jiwa yang tegar ketika melakukan aktivitas proses belajar mengajar. Dengan demikian mereka tidak lesu, loyo, malas, dan pesimis. Kepala sekolah juga sebagai fasilitator, yang mampu menyediakan fasilitas bagi keperluan proses belajar mengajar. Ketiga, idealisme guru. Keberadaan guru dalam institusi sekolah merupakan ujung tombak dalam proses pembelajaran. Sebagai tenaga pendidik profesional, guru dapat melaksanakan tugas dengan berbagai cara dan tidak harus mengikuti prosedur yang baku. Tugas guru yang utama adalah mengembangkan potensi siswa secara maksimal lewat penyajian mata pelajaran dengan sistem activity learning. Agar guru dapat menyesuaikan pola itu, maka mereka dituntut untuk senantiasa memperbaharui dan meningkatkan ilmu pengetahuan. Mereka tidak boleh bosan untuk membina diri, baik secara otodidak maupun mengikuti pelatihan, training, ataupun mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka meningkatkan kualitas diri. Keempat, sarana dan prasarana. Dalam rangka menunjang keberhasilan proses belajar mengajar, keberadaan sarana dan prasarana adalah suatu yang sangat dibutuhkan. Seperti tempat atau gedung belajar yang representatif, buku, majalah, jurnal, meja belajar, papan tulis, OHP, dan perpustakaan (Sutomo, 2003). Sarana dan prasarana yang representatif akan mendorong peserta didik untuk aktif belajar. Lingkungan pun dibuat yang bersih, asri, dan indah. Kelima, pelayanan perpustakaan. Perpustakaan akan dibutuhkan oleh seluruh peserta didik, bahkan oleh masyarakat dalam mengembangkan wawasan ilmu pengetahuan. Perpustakaan sering pula disebut sebagai nafas dari sebuah lembaga pendidikan. Artinya, jika suatu lembaga pendidikan tidak ada perpustakaan maka lembaga pendidikan itu bagaikan lembaga yang stagnan, pasif, dan mati. (29s) -Abdul Rohman, staf pengajar Fisipol Unsoed, Purwokerto. |