
| Senin, 23 Februari 2004 | Jawa Tengah - Pantura |
Banjir di Pekalongan Beralih ke Wilayah SelatanBANJIR di Kota Pekalongan tahun ini benar-benar mengejutkan karena hanya terjadi di wilayah Kota Pekalongan bagian selatan. Padahal beberapa tahun sebelumnya jika Kota Batik itu banjir, genangan airnya hampir merata di seluruh wilayah. Namun kali ini memang sudah berubah, banjir hanya melanda sebagian besar wilayah selatan. Wilayah yang dilanda banjir itu adalah Perumahan Buaran, Banyurip Ageng, Banyurip Alit, dan beberapa wilayah di Kabupaten Pekalongan. Beberapa wilayah di Pekalongan barat yang kebanjiran adalah Pabean, Tirto, dan Pasirsari. Namun banjir di wilayah itu terjadi karena melubernya Kali Bremi, setelah mendapat gelontoran air dari Kali Banyurip. Yang membuat warga heran, banjir tahun ini justru lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. Frekuensinya pun lebih tinggi. ''Kalau tahun lalu hanya dua kali Kelurahan Bumirejo kebanjiran, tahun ini sudah lima kali dan juga lebih besar. Inilah yang membuat kami kaget,'' kata Kasno (49), warga Bumirejo. Dia mengungkapkan, tergenangnya Bumirejo kali ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, sementara saluran (sungai) yang melewati desanya sudah dangkal. Karena saluran itu tak mampu menampung air hujan, akhirnya meluber ke daerah sekitarnya. Bumirejo tergolong sebagai daerah yang rendah dibanding dengan wilayah lain sehingga air hujan pun menggenanginya. Di sana, hampir seluruh rumah warga tergenang. ''Untuk mencegah terjadinya banjir, saluran di Bumirejo harus dikeruk,'' kata Kasni. Dibarengi Pengerukan Dia mengatakan, upaya itu masih harus dibarengi dengan pengerukan dan pelebaran saluran di Desa Sambo yang termasuk wilayah Kabupaten Pekalongan. Di desa itu, saluran air yang merupakan terusan dari saluran Bumirejo makin ciut sehingga perlu dinormalisasi. Sebaliknya, bencana alam tahun ini agak membuat lega warga Pekalongan bagian utara. Sebab, dulu wilayah tersebut pada musim hujan dapat dikatakan tiada hari tanpa banjir. Misalnya, di Krapyak Lor, Krapyak Kidul, Sampangan, Klego, Panjangwetan, dan daera lain di sepanjang alur Sungai Pekalongan. Menurut keterangan Kabag Humas, Suharto BBA, ada beberapa faktor yang bisa membuat wilayah utara lebih aman dari bencana banjir, yakni setelah disudetnya Sungai Pekalongan dengan sudetan Kalibanger. ''Kini sebagian besar air Sungai Pekalongan mengalir ke sudetan sehingga tidak mengalir ke tengah kota. Dengan demikian, daerah sekitar aliran Sungai Pekalongan sedikit lebih aman. Sudetan itu dibangun tahun lalu dengan dana Rp 37,3 miliar,'' katanya. Adapun banjir yang terjadi di wilayah selatan, lanjut dia, sebenarnya hanya karena faktor curah hujan yang tinggi, sementara saluran tidak mampu menampung airnya. Akhirnya air hujan pun meluap ke daerah sekitarnya, mulai dari Perumahan Buaran, Banyurip Alit, Banyurip Ageng sampai ke Bumirejo, Tirto, Pabean, dan Pasirsari. Banjir itu membuat masyarakat prihatin. Sebab setiap banjir di wilayah selatan, jalur Kedungwuni (Kabupaten Pekalongan) ke Kota Pekalongan lumpuh karena jalannya tergenang air. Ketinggian airnya pun mencapai 1 m di tepi jalan dan di badan jalan sekitar 70 cm. Dengan genangan air setinggi itu, mobil-mobil tidak bisa lewat. Untuk mengatasi banjir di wilayah selatan itu Kepala DPKP, Drs Sigit Sumarhaenyanto MM, menyatakan harus dilakukan kerja sama antara Pemkot Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan. Sebab muara sungai di Banyurip adalah ke Kali Bremi. Padahal sebelum bermuara ke laut, aliran Kali Bremi melewati beberapa desa di Kabupaten Pekalongan. (Trias Purwadi-17n) |