logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 23 Februari 2004 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

Sumur Warga Tercemar BBM

  • Pipa Pertamina Diduga Bocor

BANYUMAS- Dua sumur milik warga RT 1 Rw 2, Desa Sidamulya, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, tercemar bahan bakar minyak (BBM). BBM yang merembes ke dalam sumur itu diduga dari kebocoran pipa Pertamina yang jaraknya hanya 20-an meter dari sumur.

Sumur yang tercemar itu milik Sunu (54) dan Suparno (48) yang rumahnya bersebelahan. Jarak sumur Sunu dan Suparno ada sekitar 10 meter. Sumur milik dua warga itu diketahui mulai tercemar BBM sejak 17 Februari lalu. Di tempat Sunu, air sumurnya diketahui bercampur BBM pada Selasa (17/2) kira-kira pukul 08.00, sedangkan di sumur Suparno diketahui pada hari yang sama sekitar pukul 17.00.

"Sumur tempat saya itu selama ini airnya sangat jernih. Yang memanfaatkan tidak hanya keluarga, tetapi juga tetangga lain yang berjumlah 20-an keluarga. Namun, sejak airnya tercemar minyak, sumur tak lagi bisa dimanfaatkan," tutur Sunu. Sedangkan sumur di tempat Suparno hanya untuk keluarganya dan belasan orang yang bekerja di pabrik makanan ringan miliknya.

Sunu menuturkan, pada Selasa pagi itu air sumurnya menebarkan bau premium. Kemudian siang hingga malamnya, menebarkan bau minyak tanah. Hal serupa juga dialami Suparno. Namun ketika itu baik Sunu maupun Suparno belum berani bertindak apa pun. Setelah dibiarkan hingga Rabu (18/2), minyak yang mengapung di permukaan sumur mencapai ketebalan lebih kurang 3 cm.

Karena khawatir membahayakan lingkungan, Sunu melaporkan ke kepala desa dan diteruskan ke puskesmas. Atas saran puskesmas, Sunu dan Suparno pada Rabu (18/2) menguras sumur dengan mesin penyedot.

Namun setelah air disedot, ternyata saat sumur kembali terisi air, permukaan air masih ada endapan minyaknya. Untuk meyakinkannya, sampel air yang diambil setelah sumur dibersihkan, Sunu mencelupkan kain ke dalam ember dan disulut, ternyata menyala.

"Takut membahayakan, Sabtu (21/2) siang saya lapor ke Polsek Kemranjen untuk pengupayaan pengamanan," ungkapnya.

Garis Polisi

Aparat Polsek yang dipimpin Kapolsek Kemranjen Iptu Isfa Indarto SH kemudian meluncur ke lokasi. Kedua sumur itu diberi garis polisi. Pihak kepolisian juga memberitahu ke Terminal Transit Lomanis Pertamina Unit Pemasaran IV Semarang di Cilacap yang menangani pipa BBM. Tak lama berselang, tim dari Terminal Transit Lomanis (TTL) tiba di lokasi untuk mengecek sumur dan kondisi sekitarnya.

Kapolwil Banyumas Kombes Pol Drs AA Mapparesa dan Kapolres Banyumas AKBP Drs LOM Marpaung pun meluncur ke lokasi. Setelah mengecekan dan menyulut kain celupan ke air sumur yang tercemar serta memang menyala, saat itu juga Kapolwil memerintahkan jajarannya mengamankan lokasi dan menutup sementara sumur milik dua warga Sidamulya dan memasang tanda peringatan untuk tidak merokok di sekitar sumur.

"Untuk menjaga kemungkinan adanya bahaya akibat pencemaran itu, sementara sumur ditutup. Pertamina juga sudah diminta untuk meneliti dari mana asal-usul minyak yang merembes ke sumur penduduk. Apakah karena ada pipa BBM yang bocor atau karena sebab lain?" ungkap Kapolwil.

Secara terpisah, Kepala TTL Pertamina Unit Pemasaran IV Semarang di Cilacap, Jumali Kusumo, Sabtu (21/2) malam kepada wartawan menyatakan Pertamina belum yakin bahwa sumur warga yang tercemar itu akibat kebocoran pipa Pertamina di tepi jalan raya Cilacap-Yogya yang berjarak sekitar 22,5 meter dari sumur yang tercemar.

"Pertamina belum yakin, sumur warga yang tercemar akibat kebocoran pipa BBM milik Pertamina yang tidak jauh dari sumur warga. Untuk memastikan dari mana minyak yang mencemari, Pertamina sedang meneliti."

Menggali Tanah

Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah menggali tanah di atas pipa sekitar sumur yang tercemar. Kalau dari penggalian tanahnya diketahui basah karena bercampur BBM, memang pipanya bocor. Namun kalau tanah di atas pipa saja kering, tak ada rembesan minyak, maka minyak yang mencemari sumur jelas bukan dari kebocoran pipa BBM," jelasnya.

Pipa Pertamina di dekat sumur warga ada dua, yakni jaringan pipa BBM dari Lomanis (Cilacap) ke Rewulu (Yogya) yang disebut CY I dan CY II. CY I berdiameter 8 inci dengan ketebalan pipa 12,5 mm dan CY II berdiameter 12 inci dengan ketebalan 12,5 mm. CY I yang dioperasikan sejak 1973 khusus mendistribusikan minyak solar, sedangkan CY II yang dioperasikan sejak 1986 untuk mendistribusikan premiun dan minyak tanah (kerosine).

Jumali menuturkan, kondisi kedua pipa masih bagus dan belum saatnya diganti. Pipa yang berketebalan 12,5 mm itu pun sudah diproteksi dengan wrapping dan proteksi katodik untuk mencegah korosi.

"Dengan adanya perlindungan itu, kecil kemungkinan terjadi kebocoran. Kalau memang ada kebocoran, sejak dari TTL sudah bisa terdeteksi dengan melihat indikator tekanan yang ada di TTL. Bila ada kebocoran di Buntu dengan tekanan pipa di tempat itu berkisar 50 - 55 kg/cm2, maka akan langsung terdeteksi. Akan tetapi sejak 17 Februari lalu tidak ada masalah, sehingga Pertamina belum yakin bahwa sumur yang tercemar itu aibat adanya kebocoran pipa BBM," paparnya.

Untuk memastikan dari mana asal BBM yang mencemari sumur warga, langkah yang sudah diambil Pertamina pada Sabtu petang adalah menetralkan air sumur lebih dulu dengan dispersan (larutan pelarut minyak). Air yang telah dinetralkan itu akan dipantau sehari dan setiap dua jam diambil sampelnya. (G23-20j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA