
| Senin, 23 Februari 2004 | Jawa Tengah - Banyumas |
Kurang, Pendidikan Praktisi HerbalPURWOKERTO - Karena kurangnya lembaga pendidikan, sangat sedikit praktisi pengobatan herbal/oriental yang mampu mengenali dan memahami khasiat tanaman obat. Kebanyakan praktisi mempelajari ilmu pengobatan yang diwariskan secara turun-temurun atau belajar ilmu yang cenderung gaib/klenik. Demikian dikatakan Sidi Aritjahja dari Herbalist Oriental Medicine Happy Land Medical Center (pusat pengobatan herbal), Yogyakarta. Dia mengatakan hal itu saat menjadi pembicara pada seminar tinjauan medis terhadap pengobatan alternatif, di Universitas Muhammadiyah, Purwokerto (UMP), Sabtu. Dia mengungkapkan, tampaknya belum ada lembaga yang berminat mendirikan institusi pendidikan untuk para praktisi herbal. Di negara China, lembaga pendidikan seperti itu ada sejak 1950-an. Pemerintah Korea, Jepang, Inggris, Belanda, Amerika Serikat, dan Austalia pun meniru, bahkan tak mau kalah dalam mengembangkan ilmu itu. Di negeri ini, katanya, terdapat lebih dari 30.000 jenis tanaman. Antara 2.000 -3.000 jenis telah diketahui berkhasiat sebagai obat, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Metode herbal adalah penyembuhan memakai tanaman berkhasiat obat. Masyarakat banyak mengenal metode tersebut. Hampir semua daerah/pulau memiliki kekhasan metode sesuai dengan jenis tanaman obat yang ada di tiap-tiap wilayah. Pembicara lain, Dr Suwijiyo Pramono DEA, Apt (dosen Fakultas Famasi UGM) mengatakan, kecenderungan kembali ke alam melanda semua negara. Penduduk yang memakai obat herbal di Afrika sebanyak 60% - 90%, Australia 40% - 50%, Eropa 40% - 80%, Amerika 40%, dan Kanada 50%. Penjualan bahan baku mencapai nilai 43.000 dolar AS. Pemasok terbesar adalah negara China, disusul Eropa, dan AS. (bd-20n) |