
| Senin, 23 Februari 2004 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
Ribuan Pendaki Ramaikan Puncak Gunung SindoroTEMANGGUNG- Kurang lebih 2.000 pendaki gunung, menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharam 1425 H (1 Sura) di Puncak Gunung Sindoro. Meski cuaca berkabut dan sempat turun hujan, tak terjadi peristiwa buruk menimpa mereka. Sejak Sabtu pukul 15.00, para pendaki dari berbagai kota di Jawa sudah banyak yang sampai pos pendataan (pos satu) Kledung. Setelah pukul 18.00, pendaki yang berjumlah ribuan itu secara bergelombang mulai menuju puncak Sindoro. Jarak tempuh normal dari pos satu hingga puncak memakan waktu delapan jam. Dalam kegiatan itu, tim relawan dari ''Grasindo'' (Gabungan Remaja Anak Sindoro) menerjunkan 80 personel untuk membantu para pendaki. Hingga pukul 12.00 kemarin, mereka tidak banyak melakukan kecuali hanya duduk-duduk dan memperhatikan masyarakat yang berjubel. Menurut Ketua Grasindo Basori Setyawan, jumlah pendaki pada 1 Muharam tahun ini tercatat lebih dari 2.000 orang. Separo adalah penduduk sekitar, lainnya pecinta alam dari berbagai kota seperti Magelang, Wonosobo, Semarang, Pekalongan bahkan banyak pula dari Jatim dan Jabar. Acara pendakian di Gunung Sindoro merupakan tradisi yang sudah berlangsung secara turun-temurun. Mulanya, kegiatan semacam itu dilakukan warga sekitar gunung untuk bersemedi di makam Kiai Santri dan Kiai Blandar, yang berada di puncak gunung itu. Mubeng Benteng Suasana malam 1 Sura di Yogyakarta berlangsung meriah dan khidmat. Terbukti, ribuan orang baik tua maupun muda menyambut kedatangan malam keramat itu dengan khusyuk. Suasana yang sama juga terjadi di seputar Benteng Keraton Yogyakarta. Bedanya di seputar Benteng Keraton Yogyakarta, dipadati pejalan kaki yang sedang Ngalap Berkah dengan cara mubeng benteng. ''Setiap malam 1 Sura saya selalu mubeng benteng. Daripada di rumah bengong Mas,'' kata Rudi bersama teman wanitanya. Namun lain lagi yang disampaikan Mbok Tumiyem, apa yang dia lakukan dengan ikut mubeng benteng itu untuk memberikan tauladan kepada anak-anak ataupun cucunya. Karena pada dasarnya, hidup itu perlu perjuangan. ''Menika anak kula kalian wayah, jih tumut mubeng benteng (Ini anak serta cucu saya juga ikut mubeng betenng),'' jelas Mbok Tumiyem, warga Serangan. Dari sekian ribu orang yang mubeng benteng, ada rombongan dari aliran kebatinan yang melakukan upacara itu dengan tapa bisu. Mereka jalan kaki dengan mengenakan pakaian Jawa, tanpa alas kaki. Selama mubeng benteng, mereka tidak bicara. Memasuki pukul 22.00, objek wisata Parangtritis membeludak. Bahkan ribuan pengunjung tidak bisa masuk ke pantai, mereka tertahan di jembatan Kretek atau sekitar tiga kilometer dari Parangtritis. Meski demikian, mereka tetap berusaha masuk walau sulit dilakukan. Bagi yang tidak tahan, memilih pulang atau melanjutkan ziarah ke Makam-makam Raja Mataram Imogiri yang terletak tidak begitu jauh dari jembatan Kretek. (nt,sgt-42s,76s) |