
| Senin, 23 Februari 2004 | Jawa Tengah - Muria |
Petani Menjerit, Harga Gabah AnjlokBLORA- Pada satu sisi, para petani di beberapa wilayah kecamatan Kabupaten Blora saat ini sangat bergembira, menyusul hasil panen padi yang melimpah riah. Namun pada sisi lain, mereka menjerit karena harga gabah merosot hingga tinggal Rp 750 - Rp 800 per kilogram. Padahal, harga patokan pemerintah per kilogram gabah kering panen (GKP) dengan kadar air (KA) maksimal 20% adalah Rp 1.320. Beberapa petani mengungkapkan, mereka tidak bisa berbuat banyak dengan anjloknya harga gabah tersebut, meski sebenarnya cukup menyakitkan karena biaya tanam sudah mahal lantaran harga pupuk tinggi. ''Terus terang kami tidak bisa berbuat banyak. Akan tetapi terus bagaimana kalau begini, Anda kan tahu sewaktu kami tanam harga pupuk melambung tinggi,'' ujar Parman, petani dari Tunjungan. Kondisi ini diperburuk dengan tidak bersahabatnya cuaca akhir-akhir ini. Sewaktu petani panen, hujan turun sehari-hari sehingga menyebabkan kualitas gabah jelek. Sekretaris Komisi B DPRD Blora Djoko Supratno menyatakan keprihatiannanya atas harga gabah yang anjlok itu. Dia mengemukakan, untuk memantau harga gabah hasil panen tahun ini, dia terjun hingga ke pelosok-pelosok dan petani yang ditemui rata-rata mengeluhkan soal harga gabah yang anjlok itu. Bahkan, ungkap anggota Dewan dari FPDI-P itu, tidak hanya harganya yang anjlok tetapi beberapa petani di daerahnya juga kesulitan menjual hasil panen musim tanam penghujan pertama itu. ''Ini benar-benar fakta, banyak pengepul gabah di Blora enggan membeli gabah petani karena mereka mengaku tak bisa menjemur.'' Untuk itu, Joko mengimbau eksekutif untuk segera memikirkan nasib para petani itu. Dia mengusulkan, hendaknya Pemkab mau menyuplai dana ke Dolog sehingga nantinya gabah petani bisa terserap dan harga gabah pada tingkat petani bisa terangkat. Anggota Dewan yang lain, Ir Lilik Sugiyanto, mempertanyakan kondisi harga panen padi yang setiap tahun selalu anjlok itu tidak dapat diantisipasi dengan baik oleh Pemkab. Lilik mengatakan Pemkab segera memikirkan pengadaan mesin pengering gabah di tiap-tiap eks kawedanan sehingga nantinya kualitas gabah bisa terjamin dan harganya tidak jatuh. Ketua Komisi B DPRD Blora Indardjo BA ketika dimintai konfirmasi mengatakan, berdasarkan hasil pantauannya di desa-desa, harga gabah saat ini dalam keadaan memprihatinkan. ''Memang sudah memprihatinkan, mosok harga gabah tinggal Rp 750 - Rp 800 setiap kilogramnya,'' tandasnya. Indardjo, akan segera memanggil Dolog untuk mencari solusi dalam rangka menolong petani. (ud-85j) |