
| Senin, 23 Februari 2004 | Jawa Tengah - Muria |
NU-Muhammadiyah Tak Cekal Megawati di KudusKUDUS- KH Mustofa Bisri mengatakan, NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi besar di Indonesia bertanggung jawab menyelamatkan bangsa. Lebih-lebih dalam kondisi terpuruk seperti sekarang. Pernyataan kiai yang akrab dipanggil Gus Mus itu disampaikan saat memberikan ceramah pengajian yang diselenggarakan Pimpinan Muhammadyah Kudus, Sabtu malam. Kegiatan tersebut merupakan refleksi menyambut tahun baru 1 Muharam 1425 Hijriah. Materi pengajian juga diberikan oleh Darori Amin yang menggantikan Dahlan Rais yang berhalangan hadir. Gus Mus mengemukakan, kedua organisasi besar tersebut harus merefleksi diri ke belakang, apakah dalam satu tahun terakhir langkah mereka sudah benar, apakah pemimpin yang ada sekarang merupakan hasil pendidikan. ''Yang penting apakah kita sudah puas atau belum terhadap hasil pendidikan yang dilakukan. Kalau belum agar kembali kepada jalan Allah dan Rasul,'' ujarnya. Kondisi sekarang, yang penting adalah mempersatukan umat untuk hijrah ke arah yang lebih baik. ''Posisi bangsa kita saat ini tidak baik dan tidak bergerak ke mana-mana,'' tandasnya. Indikasinya, bangsa Indonesia sudah tidak mempunyai pemimpin yang patut dicontoh dan diteladani. Contoh sederhana, ujar dia, dengan berkaca pada diri sendiri. ''Kalau kita shalat, apakah teringat ke Allah? Kalau hal seperti itu saja tak ingat, apalagi ketika bersidang,'' ungkapnya. Pada bagian lain, Gus Mus membantah adanya isu kesepakatan pencekalan Megawati di Pati dan Kudus. Dia menekankan, sejak dulu tidak ada kesepakatan pencengkalan semacam itu. Namun, Gus Mus memprediksikan Megawati akan hitung-hitung jika akan mengunjungi Kudus atau Pati. Alasannya, kedua daerah tersebut bukan basis partainya. ''Kalau Mega akan datang ke Pati, dia akan ''mati'' (segera lengser dari jabatannya), apalagi ke Kudus. Penangsang yang sakti saja mati di Kudus,'' tuturnya sambil tertawa. Karena itu, dalam kondisi sekarang yang penting adalah bagaimana mempersatukan umat untuk hijrah ke arah yang lebih baik. ''Posisi bangsa sekarang berada dalam posisi brengsek dan tidak bergerak ke mana-mana,'' tandasnya. Dia mengatakan, yang menjadi masalah pemimpin bangsa tidak mau atau malas belajar. Yang mau belajar akan bertambah pintar dan sebaliknya yang malas menjadi semakin bodoh. Namun anehnya, yang bodoh merasa kuminter, lalu minteri orang-orang pintar. ''NU dan Muhammadiyah harus bersatu mewujudkan yang terbaik untuk bangsa dan negara. Kita adalah sesama saudara. Sesama saudara harus saling mengerti dan tidak boleh bertengkar,'' imbuhnya.(P7-85j) |