
| Senin, 23 Februari 2004 | Jawa Tengah - Pantura |
Pekalongan Relatif Aman DBPEKALONGAN- Tahun lalu, 59 warga Kota Pekalongan terserang penyakit deman berdarah (DB). Dari jumlah itu, sembilan orang di antaranya meninggal, dan 50 penderita lain berhasil disembuhkan. Kasubdin Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, dr Bambang Prasetyo MKes, menjelaskan jumlah itu meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya terdapat 36 penderita. Sementara untuk tahun ini diharapkan menurun. Sebab dengan berbagai upaya yang telah dilakukan Dinkes, selama Januari-Februari ini jumlah penderita DB hanya empat orang. ''Situasinya masih relatif aman,'' katanya. Mengenai tujuh penderita DB di RSUD yang masih dirawat, menurut dia, bukan semua warga Kota Pekalongan tetapi juga beberapa warga dari luar kota. Dia mengatakan, DB biasanya menyerang daerah-daerah padat permukiman. Di wilayah dinasnya, ada 10 wilayah kelurahan sebagai endemis DB. Yakni Bendan, Medono, Tirto, Pringlangu, Poncol, Klego, Landungsari, Panjangwetan, Kandangpanjang, dan Yosorejo. ''Daerah itu juga tergolong wilayah padat penduduk,'' tegasnya. Dengan diketahuinya 10 endemis itu, maka Dinkes terus mewaspadai perkembangan daerah tersebut meski tidak melupakan daerah lain. Yang jelas, pada musim penghujan memungkinkan penyakit itu berkembang. Bambang menuturkan, untuk mencegah DB di wilayahnya, Dinkes secara rutin melakukan sosialisasi kepada warga tentang penyakit itu dan cara-cara pencegahan. Selain itu, pihaknya juga secara rutin melakukan penyemprotan ke daerah-daerah rawan. ''Bagi masyarakat, cara yang paling mudah untuk mengantisipasi berkembangnya DB adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin dan serentak. Misalnya dengan menguras bak air, membuang dan mengubur barang-barang bekas yang dapat digunakan untuk perkembangan nyamuk Aedes aegypti,'' katanya.(A15-17s) |