
| Senin, 23 Februari 2004 | Jawa Tengah - Pantura |
DB Tembus Kawasan Bebas Nyamuk
SLAWI- Apa jadinya jika kawasan bebas nyamuk, penghuninya terjangkit penyakit demam berdarah (DB)? Itulah yang terjadi di perkampungan di Jl Melati, Kelurahan Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Di perkampungan itu, di pintu gerbangnya dipasang tulisan sangat mencolok ''Kawasan Bebas Nyamuk 24 Jam''. Tulisan berwarna putih dengan latar belakang merah menyala itu, seperti menjadi jaminan bagi keamanan dan kenyamanan warga oleh gigitan nyamuk. Ternyata tulisan adalah tulisan. Dia tidak bisa menjadi jaminan. Sebagai bukti, sejak Januari lalu, sudah delapan warga kampung itu terkena sengatan nyamuk aedes aegypti dan mondok di rumah sakit karena positif terkena DB. Bahkan beberapa di antaranya sampai masuk dalam stadium III dan IV. Penderita pada stadium itu, selain muntah-muntah juga sering mengeluarkan darah dari lubang hidung. Sering pula penderita pada stadium itu, tidak tertolong. Itulah sebabnya, warga Jl Melati RW 4 Kelurahan Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, sangat kesal dengan papan tulisan ''Kawasan Bebas Nyamuk 24 Jam'' di pintu masuk jalan tersebut. Mereka menilai, promosi dari sebuah perusahaan obat nyamuk terkenal itu bohong-bohongan. ''Ya karena delapan warga sudah positif terserang DB. Dan, tidak ada kepedulian dari perusahaan obat nyamuk yang berani pasang tulisan di pintu gerbang itu. Warga kami sakit, tetapi tidak ada penyemprotan dari perusahaan nyamuk itu. Padahal warga siap urunan agar tidak terserang DB,'' kata Ny Vyana Laksmita Eddhie Praptono, warga RT 2 RW 4 dan Ny Siti Aliyah, warga RT 1 RW 4, kemarin. Warga Waswas Serangan nyamuk pada Januari lalu, kata Nya Vyana Laksmita, membuat warga marah. Kemarahan itu memuncak ketika sampai bulan ini masih banyak warga di perkampungan itu yang terjangkit DB. Mereka bahkan mendesak pihak perusahaan mencopot saja tulisan tersebut, karena tidak berguna. Tercatat tujuh warga jalan itu dirawat di RSUI Texin. Letak rumah sakit itu pun bersebelahan dengan perkampungan tersebut. Menurut Drs H Noercholis Moestofa, Wakil Direktur RSUI Texin, sampai Februari tercatat 39 penderita DB dirawat, terbanyak adalah anak-anak. Puluhan penderita DB yang dirawat, tidak saja berasal dari Jl Melati yang digembar-gemborkan merupakan ''Kawasan Bebas Nyamuk 24 Jam''. Namun juga dari kampung sebelah di Mejasem, Desa Munjungagung (Kramat), Kecamatan Suradari dan Warureja. Kondisi penderita penyakit tersebut, kata dia, banyak masuk stadium III dan IV, sehingga pihak rumah sakit bekerja ekstrakeras terhadap pasien. Sebab penderita di stadium itu ada pada kondisi paling gawat. Tak jarang bisa tidak tertolong jiwanya. ''Januari lalu, ada enam yang meninggal dunia. Penderita luar biasa banyaknya. Lebih dari seratus anak-anak,'' tutur H Noercholis, yang juga Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Tegal. Sebagai contoh, serbuan nyamuk di Kabupaten Tegal. pada Januari lalu, seperti pernah diberitakan sebelumnya, serangan nyamuk itu membuat ratusan anak opname (rawat inap) di sejumlah rumah sakit. Mereka banyak terkena penyakit itu dengan stadium III hingga IV. Bahkan tiga rumah sakit seperti Rumah Sakit Umum (RSU) Dr Soeselo Slawi, RSU Islam Texin Dampyak, Kramat, dan RSU Islam PKU Muhammadiyah Singkil, Adiwerna, tidak mampu menampung.(D12-17s) |