logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 23 Februari 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Ribuan Siswa Terancam Tak Lulus

  • Guru Tidak Bisa Mengatrol Nilai

KAJEN- Ribuan siswa Madrasah di Kabupaten Pekalongan terancam tidak lulus dalam ujian akhir negara (UAN) mendatang, menyusul munculnya kebijakan baru dari Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) soal sistem penilaian dalam UAN.

Kepala Kantor Depag Kabupaten Pekalongan, Drs H Masduki mengatakan, berdasarkan keputusan Mendiknas Nomor 153 Tahun 2003, empat mata pelajaran dalam UAN yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA/IPS rata-rata minimal harus 4,00 dan tidak boleh digabung dengan nilai ujian praktik.

''Standar itu sangat menyulitkan para guru. Jadi jika tahun lalu Depag digegerkan soal haji, tahun ini mungkin akan ada siswa tidak lulus secara massal,'' tandasnya.

Tahun lalu, kata Masduki, nilai rata-rata siswa masih bisa dikatrol dengan manggabungkan nilai ujian praktik. Selain itu dalam UAN mendatang tidak ada lagi ujian ulang bagi mereka yang nilainya di bawah rata-rata.

''Jika nilai tidak dikatrol oleh guru, diperkirakan hanya beberapa gelintir siswa yang bisa memenuhi standar nilai itu.''

Ancaman tidak lulus massal, jelas Masduki, hampir terjadi di seluruh jenjang pendidikan yang ada di bawah naungan Depag, baik Madrasah Ibtidaiyah (MI)/SD, Madrasah Tsanawaiyah (Mts)/SMP, Madrasah Aliyah (MA)/SMA. Di Kabupaten Pekalongan terdapat 94 MI, 24 Mts, dan delapan MA.

Di Madrasah, kata dia, masih banyak kendala yang menyulitkan pendidikan para siswa. Sebab kualifikasi siswa, kesejahteraan guru, dan kegiatan belajar mengajar belum bisa memenuhi standar ideal.

Untuk mengantisipasi terjadinya tidak lulus massal, Masduki mengaku telah menginstruksikan kepada seluruh Kepala Madrasah untuk menggelar les maraton dengan materi pelajaran yang diujikan dalam UAN.

''Dua bulan yang lalu kami sudah memerintahkan kepada para kepala sekolah untuk menggelar les maraton,'' katanya.

Sejumlah guru yang dimintai konfirmasi Suara Merdeka juga mengakui ancaman tidak lulus massal tersebut. Tidak adanya ujian praktik dinilai menyulitkan para guru untuk menaikkan nilai siswa. ''Jika yang dipakai nilai murni, siswa akan kesulitan mendapatkan nilai rata-rata 4,'' ujar Drs Lukman Hakim, salah satu staf pengajar di MA Simbangkulon Buaran.

Ancaman tidak lulus massal itu, kata dia, besar kemungkinan terjadi. Sebab untuk mendapatkan rata-rata nilai standar sangat berat.

''Terus terang ini memang berat, sebab kami sebagai guru tidak lagi bisa membantu nilai dan hanya bisa memberikan les tambahan,'' katanya.(G16-17s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA