logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 19 Februari 2004 Tajuk Rencana  
Line

Dunia Usaha Tetap Menjadi Tumpuan

- Ketika berbicara di depan Munas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Jakarta, Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti menyatakan tidak ada sebuah negara yang kuat tanpa dunia usaha swasta yang sehat. Kendati sekarang sudah tercapai kestabilan makro seperti menguatnya kurs rupiah, rendahnya angka inflasi, penurunan sukubunga bank, dan meningkatnya indeks harga saham gabungan (IHSG), tanpa diimbangi dan diikuti aktivitas dunia usaha khususnya di sektor riil, akan percuma. Sebab, indikator-indikator makro itu belum mengindikasikan selesainya seluruh permasalahan ekonomi. Justru baru merupakan landasan. Indikator terpenting adalah angka pengangguran dan kemiskinan. Selama belum ada kemajuan dalam dua hal itu, pembangunan ekonomi belum dapat dikatakan berhasil.

- Data menunjukkan masih tingginya angka pengangguran, dan itu terkait erat dengan kemiskinan. Tidak kurang dari 10 juta orang menganggur saat ini. Bila dilihat angka pengangguran total, termasuk pengangguran tersembunyi, angkanya diperkirakan lebih dari 30 juta orang. Tidak ada kata kunci lain untuk mengatasi masalah itu selain meningkatkan investasi dan kegiatan sektor riil seperti perdagangan. Investasi berarti terkait erat dengan kondisi dunia usaha, sebab kita mengetahui sejak pertengahan 1980-an, setelah rezeki minyak tak lagi bisa jadi andalan sementara utang makin membengkak, kemampuan pemerintah berinvestasi cenderung menurun dan sampai sekarang berada pada posisi yang amat rendah. Artinya, kemampuan itu amat kecil. Ke mana harus bertumpu kalau tidak pada dunia usaha.

- Kita tak perlu berkecil hati, sebab hampir di semua negara seperti itu. Yakni peranan langsung pemerintah dalam perekonomian makin kecil sehingga lebih berfungsi hanya sebagai regulator. Sementara pemerintah pendapatannya sangat bergantung pada perolehan pajak yang berarti juga mengandalkan dunia usaha. Jadi, dunia usaha benar-benar strategis dan menentukan bagi perekonomian di suatu negara. Bila aktivitas dunia usaha swasta terganggu atau mengalami perlambatan, akan menurun pula laju pertumbuhan ekonomi. Begitu pula sebaliknya. Saat ini laju pertumbuhan sudah makin baik. Kita bisa mencapai angka 4% selama setahun dan masih berharap mendekati 5% pada tahun ini. Kondisi itu akan bisa lebih baik lagi apabila kita mampu mendorong aktivitas ekonomi swasta.

- Harus diakui, perbaikan iklim usaha belum sepenuhnya berhasil. Terutama sejak krisis ekonomi pertengahan 1997. Dunia usaha swasta, terutama yang besar-besar, banyak mengalami gangguan. Katakanlah sekarang sudah mulai normal namun belum berani terlalu ekspansif. Sementara itu, angka penanaman modal baru baik dari domestik maupun asing cenderung menurun. Banyak investor yang malah hengkang atau memindahkan pabriknya ke luar negeri dengan berbagai alasan. Itulah pentingnya pemerintah selalu berdialog dengan asosiasi dunia usaha, termasuk Kadin agar diperoleh banyak masukan dan berusaha memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dunia usaha. Sebenarnya tingkat kepercayaan mulai membaik. Masuknya modal dari luar miliaran dolar AS membuktikan hal itu, kendati masih ke investasi portofolio dan belum ke sektor riil.

- Sering kali mencari solusi itu tidak gampang dan butuh waktu. Misalnya imbauan agar tarif pajak diturunkan. Ini menyangkut perubahan undang-undang dan itu memerlukan waktu yang tidak pendek. Baik kebijakan fiskal maupun kebijakan insentif lain perlu benar-benar dipikirkan kalau kita tak mau tertinggal dari negara lain. Harap diingat, sekarang persaingan bukan hanya antarpelaku usaha, melainkan juga persaingan antarnegara. Maka, kita perlu banyak berbenah agar iklim usaha tetap kompetitif dan kepercayaan dunia luar makin cepat pulih. Ini menyangkut banyak aspek dan peraturan di bidang hukum, perpajakan, ketenagakerjaan, kepabeanan, dan lain-lain. Hanya dengan itulah bisa diharapkan investasi akan segera mengalir. Kalau sudah mengalir, secara otomatis akan teratasi masalah-masalah seperti pengangguran.

- Ada sesuatu yang agak kurang menguntungkan, karena tahun ini kebetulan waktunya bersamaan dengan berlangsungnya pemilu, walaupun diyakini pemilu akan baik-baik saja. Akan lancar-lancar saja namun tetap akan disikapi lain oleh dunia usaha. Paling tidak mereka akan menunda sementara sambil menunggu apa yang akan terjadi. Begitulah sikap berhati-hati untuk memperkecil risiko. Sebab, sikap hati-hati seperti itu juga akan dilakukan oleh sektor perbankan. Lebih-lebih lembaga keuangan itu rata-rata memiliki pengalaman buruk dengan kredit macet. Kalaupun tidak akan memengaruhi banyak, setidaknya ada. Kita perlu terus berjuang agar sistem, struktur, dan kultur politik semakin kuat sehingga peristiwa politik tak perlu mengganggu aktivitas ekonomi seperti yang terjadi di negara lain.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA