
| Kamis, 19 Februari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Kondektur Bus Palsu Umumnya Calo Tiket
SEMARANG- Aksi kondektur palsu yang terjadi di atas bus angkutan umum diduga dilakukan para calo yang sering beroperasi di Terminal Terboyo.
Mereka ada yang mengantongi kartu identitas serikat pekerja dan ada yang tidak. Tidak hanya dalam bus yang sedang berjalan, mereka juga beroperasi di dalam terminal saat bus ngetem mencari penumpang. Seorang kondektur bus PO Duta Kartika jurusan Solo, Yanto (bukan nama sebenarnya), mengatakan kondektur palsu sering muncul pada saat tertentu. Misalnya Lebaran atau bertepatan dengan jadwal kedatangan kapal di Pelabuhan Tanjung Emas. Yang sering menjadi korban aksi mereka umumnya penumpang kapal yang belum berpengalaman saat tiba di Terminal Terboyo, sedangkan sebagian lainnya adalah penumpang bus. ''Kalau mau melihat jelas, silakan saat jam-jam kedatangan penumpang kapal dari Kalimantan. Kondektur-kondektur palsu itu umumnya ya para calo yang kerap beroperasi di terminal,'' katanya lirih seolah agar tidak didengar orang di sekitarnya saat ditemui di Terminal Terboyo, Rabu (18/2). Seperti diberitakan SM (18/2), kondektur palsu kerap beroperasi di atas bus ekonomi AKAP dan AKDP.
Layaknya kondektur yang sebenarnya, mereka juga menarik ongkos kepada penumpang. Pelaku adalah para calo yang sering mencarikan penumpang bus. Menurut Yanto, antara kondektur palsu dan awak bus sudah saling mengenal. Namun, awak bus tidak berani melarang karena takut diancam. Mereka kalau beroperasi terkadang mengenakan seragam serikat pekerja. Jumlahnya antara lima dan enam orang. ''Kami tidak berani bertindak, karena ibaratnya terminal sudah menjadi sumber penghidupan kami. Kalau ada masalah dengan mereka, siapa yang mau melindungi kami,'' ujarnya. Setelah kondektur palsu menarik ongkos penumpang, menurut beberapa kondektur bus, uang disetorkan kepada kondektur asli. Jumlah uang yang disetorkan terkadang sesuai dengan jumlah penumpang, tetapi lebih sering tidak sesuai. Bila kurang, kondektur asli terpaksa menarik ongkos kembali kepada penumpang sekadar untuk menutupi kekurangan. ''Kami terpaksa kembali menarik ongkos pada penumpang, sehingga banyak penumpang yang terpaksa membayar dua kali. Habis bagaimana lagi, saya tidak mau rugi dikejar setoran,'' dalihnya. Pengurus Agen Bus PO Handoyo, Hartono (45), yang juga anggota Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI) mengakui kondektur bus palsu sering muncul. Meski mereka sering merugikan penumpang, terhadap awak bus tidak terlalu merugikan. Sebab, sebagian besar dari mereka menyetorkan penarikan ongkos penumpang kepada kondektur asli. ''Kalau boleh dipersentase, 95 % mereka menyetor ke awak bus yang resmi. Sisanya, 5 %, tidak mau menyetorkan. Mereka ada yang memiliki anggota serikat perkerja dan sebagian lainnya tidak tercatat sebagai anggota,'' tuturnya. Yang merugikan penumpang, lanjut dia, pada umumnya mereka menarik ongkos lebih besar dari biasanya. Setelah menyetor sejumlah uang kepada kondektur asli, kelebihannya masuk kantong mereka. ''Mereka tidak mau mendapat upah dari kondektur asli dari usahanya mencarikan penumpang. Mereka lebih memilih menarik ongkos penumpang sendiri. Dengan demikian mereka mendapat tambahan ongkos jauh lebih besar ketimbang diberi kondektur,'' katanya. Menurut pengemudi, jajaran Polsek Genuk sebenarnya sering merazia mereka. Namun, karena aparat yang bertugas di terminal terlalu sedikit, mereka tidak mampu mengatasi. ''Seperti saat menjelang Lebaran atau Natal lalu, banyak yang terjaring razia. Namun calo kembali muncul, sedangkan jumlah polisi di terminal hanya tiga orang,'' tambahnya. (G5-83k) |