
| Kamis, 19 Februari 2004 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
Ombak Besar, 600 Nelayan Tak Melaut
KEBUMEN- Sejak tiga hari terakhir ini sekitar 600 nelayan di Pantai Pasir, Kecamatan Ayah, Kebumen, tidak berani melaut. Sebab, ombak di pantai selatan cukup besar sehingga kapal-kapal nelayan sulit masuk laut. Menurut keterangan nelayan Sarno Solekan (54), saat ini ada sekitar 350 kapal terpaksa merapat di pantai. Nelayan tak berani masuk laut akibat gelombang yang cukup besar, baik di pagi maupun sore hari. Dari penuturan nelayan, ombak besar itu terjadi sejak sepekan terakhir ini. Hanya ada satu dua nelayan berani melaut. Namun mereka hanya bisa setengah hari menangkap ikan. Sejak kemarin, praktis tak ada satu pun nelayan yang berangkat melaut. Apalagi gelombang pasang makin besar, dan sulit ditembus kapal-kapal jenis fiberglass ataupun kapal kecil. Hal yang sama juga menimpa nelayan di Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Pedalen, Karangduwur, Tanggulangin Klirong, dan Mirit. Terlebih semakin ke timur, ombak laut selatan kian besar. Keengganan nelayan melaut juga terkait dengan masa-masa pacelik. Biasanya, sejak memasuki September sampai awal Februari ini masa sulit dan langka ikan. Saat ini sebagian nelayan memilih mencari rajungan di pantai. "Kami menggunakan jaring untuk menangkap kepiting," ucap Ny Sunarti, istri nelayan. Rp 250 Juta/Hari Menurut sejumlah nelayan di Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Pasir, dalam kondisi normal total pendapatan ikan oleh nelayan yang terjual di PPI Rp 250 juta per hari. Hasil ikan yang dijual di PPI itu biasanya bawal, layur, tengiri, udang lobster, dan ubur-ubur. Jumlah nelayan di PPI pasir ada sekitar 600 orang. Bila tak bisa melaut, para nelayan itu beralih profesi ke ladang atau sawah. Sebagian lagi juga beternak sapi dan kambing. Para nelayan dan pedagang di PPI Pasir juga berharap ada bantuan modal. Sebab, musim paceklik ikan bisa berlangsung empat bulan. "Selama itu baru sekali kami mendapatkan bantuan modal Rp 150.000," ucap seorang pedagang nelayan. Sementara itu, para nelayan di PPI Pasir mengeluhkan tripot atau penahan gelombang yang ada di sekitar pantai. Tripot tersebut semula dipasang untuk memudahkan nelayan saat mendarat. Diduga karena ada kekeliruan desain, pembangunan dermaga dan penahan gelombang itu justru membahayakan nelayan. Sebab saat mendarat, kapal-kapal nelayan sering menabrak tripot tersebut. Saat ini sebenarnya tripot sudah digeser ke tepi. Namun nelayan masih terganggu, dan mereka mendesak agar disingkirkan saja dari kawasan pantai. Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kebumen Drh Djatmiko mengaku telah mengirim surat ke Dinas Perikanan Provinsi Jateng agar memindahkan tripot di PPI Pasir. "Kami tak punya dana untuk memindahkan tripot itu," jelas Djatmiko.(B3-76s) |